Jumat, 25 Desember 2009

Sosok Dalam Cermin

Seharusnya aku mengenal sorot mata yang menatapku dari balik cermin. Senyum itu harusnya ada di bibirku. Guratan wajahnya seharusnya milikku. Wahai sosok dalam cermin, siapakah dirimu? Berilah aku waktu untuk mengenalmu. Mungkin sore ini kita bisa memesan tempat duduk di cafe, dekat jendela kaca besar, menikmati matahari yang terbenam sambil berbincang-bincang. Aku punya segudang cerita yang siap berbaris di ruang kosong antara kita. Atau kau hendak mendendangkan kasidah?. Percayalah, meskipun aku egois, aku bisa menjadi penikmat seni yang baik.
Rasanya sudah lama kita saling memandang. Namun selama itu pula kita tak saling kenal. Mungkin hidup ini sudah terlalu serakah dengan waktu, sehingga tak menyisahkannya buat kau dan aku. Bagaimana kalau kita bersekutu? Merampok waktu disaat orang-orang lengah. Mumpung malaikat dan setan masih asik berperang. Mumpung aku dan kau tak saling kenal. Sehingga tak akan ada yang berkhianat.
Ok! aku mengerti, kalau kau belum mau berbicara kepadaku. Mungkin kau susah percaya pada orang asing. Ini nomer telponku. Ku tulis di cermin kita. Kalau kau sudah merasa nyaman, hubungilah aku. Karena aku yakin kita bisa menjadi pasangan yang serasi.
Diposting oleh cafelosophy di 19.02 | 1 komentar  
Rabu, 23 Desember 2009

17 november

Mulanya aku berfikir, semua proses yang kujalani akan mengantarkan pada "kebebasan". Pendidikan, bisnis, dan menulis seakan mencerahkanku pada awalnya. Namun, disaat semua itu menemui titik jenuh, pembebasan yang kuharapkan itu hanyalah tali-tali yang mengikat kuat di tubuhku. Aku merasa terjebak dalam goa dengan tatanan yang "ideal". Mungkin aku adalah salah satu manusia goa-nya Plato. Terjebak dalam ruang yang ku sebut beradab nan berbudaya.
Sesekali aku berbisik pada malam, aku ingin menjadi Friedrich Wilhelm Nietzsche. Menjadi manusia super, dengan kehendak untuk berkuasa. "Hendak kau jebloskan kemana lagi dirimu?" tanya bintang yang bertebaran malam itu, "bukannya dirimu yang sekarang, ataupun hari esok adalah keserakahan? Lalu kenapa kau ingin berubah, bila selalu saja terjebak dalam lubang yang sama?"
Sejenak ku tenangkan pikiranku dengan segelas kopi dan sebatang rokok kretek. Sambil mengenang romantisme sekelompok pemberontak di kota Apel, yang kini tewas ditikam waktu. Suara yang dahulu lantang dan berapi-api, kini hanya menggema pada ruang sempit hatiku. Aku tak mampu lagi melihat bintang, karena mereka selalu meneriak-kan pertanyaan klasik, "dari gugus bintang manakah kau berasal? hendak ke galaksi mana kau akan mengakhiri perjalananmu?"
Ada penyesalan, ketidak puasan, dan keinginan yang bergejolak, dari lubuk hati seseorang yang terlahir sendiri dalam menghadapi perang abadi ini. Waktu terus berjalan, pertanyaan menghasilkan pertanyaan lanjutan. Tidak ada kesimpulan, semua berputar dalam tesis, anti tesis, dan sintesis.
Malam kian larut, jarum jam sudah menunjukkan pukul 03.00 saat hp-ku tiba-tiba menginterupsi.
"Halo.."
"Hai, apa kabar Sam?" sapa seorang laki-laki diseberang sana.
Aku tertegun, diam, bingung. Rasa kangen yang lama terpendam, ternyata membunuh semua kalimat yang tersedia dalam memori otakku. "benarkah ini engkau?" tanyaku dalam hati.
"Ini Sam Abel kan?"
"Iya" jawabku singkat, masih dengan perasaan yang penuh harap.
"Walah, kok diam aja. Ini Toni Sam!" jelas Toni, "masih ingatkan sama ayas. Temen waktu di Malang..."
"Iya"
"Kok jadi diam toh Sam, kaget ya ayas punya nomer hp Sam?"
"Mestinya lu ga usah nanya itu kali Ton!"
"ha ha ha iya maap, ada hal penting yang pengen ayas omongin Sam"
"Apaan Ton?" tanyaku penasaran.
"Sabar-lah.. pokoknya, Sam Abel kalo bisa sekarang juga ke sini"
"Ke mana?"
"Ke monas"
"Nah emang lu sekarang lagi di Jakarta? sejak kapan?"
"Sudalah Sam, basa-basinya entar aja. Sekarang Sam Abel kesini. aku tunggu sampe fajar, setelah itu ayas ga bisa nemuin Sam OK?!"
"Ton! Sialan hpnya udah di matiin lagi. Lu kira lapangan monas kayak halaman rumah?" gerutu gue ke Toni.
Aku perhatikan kalender, sekarang taggal 17 November 2009. Ini bukan tanggal ulang tahun gue maupun Toni. Lalu kenapa tiba-tiba Toni ingin bertemu? dari mana dia dapat nomer hp ku? ada perlu apa? kenapa harus menjelang fajar?
"Masa bodoh-lah, gue harus cepet-cepet ketemu Toni" pikirku langsung lari ke garasi.

(bersambung)
Diposting oleh cafelosophy di 08.46 | 1 komentar  
Selasa, 22 Desember 2009

Roti Bakar Elektrik


Minggu ini gue ngerasain apa yang dinamakan kolaborasi yang sempurna antara bakat dan alam. Males ternyata cocok banget kalo dipaduin sama hujan, ditambah lagi weekend maka yang akan dihasilkan adalah HIBERNASI ala anak kostan.
Siang dan malem udah ga ada bedanya lagi di kostan. Semua pintu, jendela dan tirai ditutup rapat-rapat. Gue sama temen-temen kostan, udah kayak segerombolan vampire yg bersembunyi dari sinar matahari dalam ruangan kecil yang gelap. Kebiasaan tidur selama hari sabtu dan minggu, selalu berulang disetiap akhir minggu. Sehingga para tetangga kita udah paham betul dengan ritual ini. Kadang kita suka mikir, kira-kira kapan ya kelakuan ini bisa berakhir? Kata temen gue Alfonso (cu shui), kita bakalan berhenti hibernasi kalo udah ada koran terbit dengan headline berikut: 4 MAHASISWA DITEMUKAN MEMBUSUK DALAM KAMARNYA.
"Bong... bong..." kata Ieday sambil terus goyang2in pundak gue yg masih asik tidur.
"Ada apa Dai?" tanya gue males2an.
"Katanya, mau tidur"
"Sialan lu, nih gue lagi tidur Bodoh!"
"Hehe becanda, gitu aja sewot, kayak beruang bunting lu!" kata Ieday terus nyeret gue, biar bangun.
"Ada apaan sih lu bangunin gue?" tanya gue begitu udah 80% sadar.
"Lu laper nggak?"
"Sebenernya sih iya"
"Makan yuk!" ajak Ieday
"Males jalan dai, ujan! lu masak mie aja, entar gue ikutan makan ok?"
"Mie-nya kan udah habis"
"Yaaa terus gimana dong?"
"Santai masih ada roti sama selai"
"Ogah ah, enegh gue makan roti sama selai" kata gue terus balik lagi tidur.
"dasar pemalas! ya udah lu tidur aja, gue mo masak"
"Kalo udah mateng bangunin gue ye..."
"Ogah!"
Entah apa yang bakal dimasak sama Ieday tengah malam gini. Beras ga ada, mie ga ada. Cuman ada roti & selai tanpa pemanggang roti pula!. Gue cuman bisa berdoa: Mudah-mudahan dia masih sadar dan tidak melakukan hal2 yg tidak senonoh dengan selai di dapur.
"Broth...bangun" kata Monhox
"Ada apa Nhox?"
"Ditunggu anak2 di ruang tengah"
"Ok lu duluan deh, gue cuci muka dulu" pesen gue ke Monhox.
Begitu gue nyampe ruang tengah ternyata personel kostan udah ngumpul. Ada Ieday, Sutan dan Monhox yang duduk melingkari sepiring roti bakar. Gue memandang penuh curiga ke Ieday. "plis jangan bilang lu habis ngepet!" kata gue dalem hati.
"Ayo ah! buruan udah ada laper nih!" teriak Sutan
"Eit, dari mana lu dapet roti bakar?" selidik gue
"Ieday broth yang bikin" jelas Monhox, sedangkan ieday senyum2 ga jelas, seakan mo pamer kecerdasannya.
"Lah, kita kan ga punya pemanggang roti" kata gue penuh rasa curiga.
"Banyakan omong nih" kata Sutan terus mulai makan roti bakar, disusul kemudian Monhox.
"Jadi gini bong, gue manggang rotinya pake setrika. Nyamm..." jelas Ieday sambil mengunyah sepotong roti bakar.
"Rasanya enak kok Broth, ga kalah sama roti bakar edi"
"Makasih deh" kata gue, "lu makan aja bertiga, gue udah kenyang".
"Wah beneran nih?" tanya Sutan.
"Iya..."
Seneng rasanya ngeliat temen kostan kompak. Makan bareng-bareng.
"Kenapa sih lu bong ga mo makan?" tanya Ieday.
"Iya, lu ada masalah broth?" tambah Monhox
"Enggak, gue ga ada masalah kok. Gue cuman jijik aja"
"Jijik kenapa? ini bersih, higienis lagi" jelas Sutan
"Higienis dari mana? setrika itu kan abis gue pake nyetrika celana dalem gue yg belum kering!"
"Anjrot!"
"Huekz"
"Sialan! kenapa lu ga bilang dari tadi. Huekz!!!"
"Salah ya gue?" tanya gue yang ngeliat temen-temen gue kompak muntah berjamaah.
"Ya iyalah..." jawab mereka kompak.
"huekzzz"
Diposting oleh cafelosophy di 13.46 | 2 komentar  
Sabtu, 05 Desember 2009

Ayo Dukung Ibu Prita Mulyasari

Alhamdulillah...
Ide untuk membantu Ibu Prita terus mengalir dari semua golongan. Tidak ketinggalan saya dan teman-teman juga terus merapatkan barisan, untuk melakukan dukungan nyata melalui GERAKAN 1000 RUPIAH UNTUK IBU PRITA. Diharapkan dari dana yang terkumpul bisa untuk membayar denda Ibu Prita.
Terima kasih untuk KOMUNITAS BLOGGER UIN JAKARTA, KOMUNITAS BLOGGER PINGGIRAN, dan terutama PMII CABANG CIPUTAT yang merelakan sekretariatnya dijadikan posko gerakan ini.
Kami juga merencanakan aksi damai pengumpulan 1000 tanda tangan dan 1000 rupiah /mahasiswa untuk mendukung perjuangan ibu Prita. Aksi ini insyaallah akan kami laksanakan pada tanggal 8 Desember 2009, di kampus UIN Syarif Hidayatullah jakarta. Mulai jam 08.00 wib - sampe selesai. Bekerja sama dengan PMII cabang ciputat, komunitas blogger UIN (dalam konfirmasi) dan komunitas blogger pinggiran. Kami mengharapkan partisipasi dari semua kalangan dan pihak untuk suksesnya aksi ini.
Besar harapan kami, teman-teman aktivis, blogger maupun pengguna internet terus berjuang untuk membantu Ibu Prita Mulyasari.
Kita jugaberencana menghadiri persidangan Ibu prita pada tanggal 9 desember 2009 di pengadilan tinggi tangerang, untuk menyerahkan dukungan tanda tangan dan dana yg terkumpul.
terima kasih
Diposting oleh cafelosophy di 04.14 | 0 komentar  
Kamis, 03 Desember 2009

URUNAN BLOGGER 1000 RUPIAH BUAT PRITA MULYASARI

Pengadilan tinggi Banten telah memutuskan Prita Mulyasari bersalah dalam sidang perdata dan dikenai hukuman dengan membayar ganti rugi material dan immaterial kepada pihak pengugat I, II dan III sebesar Rp 204 juta. (tempointeraktif)
Kasus Prita hanya permulaan. Selanjutnya mungkin saja saya, anda, atau keluarga anda yg akan didakwa oleh mereka yg tidak menyukai tulisan kita di blog, status facebook atau sekedar gosip di email kita.
204 juta adalah nominal yang amat sangat besar, buat seorang ibu rumah tangga. Sebagai sahabat dan keluarga seharusnya para pengguna internet, terutama teman-teman blogger ada gerakan nyata untuk mendukung beliau. Vonis sudah dijatuhkan, kita harus menghormati hukum. Meski terkadang terasa janggal.
Yang terhormat para Pemimpin negeri ini, sudah dipusingkan dengan dana 6,7 Triliun. Kita tidak bisa berharap banyak pada mereka. Mari para blogger indonesia bersatu, bergotong royong membantu saudari kita Prita Mulyasari dengan menyisihkan uang 1000 rupiah. Bukan sebuah nominal yang besar, tapi kalo kita bersatu, denda yg dikenakan pada saudari kita, PASTI BISA KITA BAYAR!
Ayo kawan-kawan BLOGGER! tunjukkan pada DUNIA kita BERSATU
Bagi anda yg ingin berpartisipasi bisa meninggalkan komentar dipostingan ini. atau bergabung di group facebook GERAKAN 1000 RUPIAH BUAT PRITA MULYASARI.
Diposting oleh cafelosophy di 18.30 | 1 komentar  
Langganan: Komentar (Atom)