Minggu, 24 Agustus 2008

Rama and Me

"Rama...!!!" teriak kakak gue
(hening ga ada jawaban)
5 detik kemudian kakak gue kembali teriak, "Rama...!!!"
..........................................
"Rama...!!!" Kali ini kakak gue teriak dengan tenaga super Mom-nya.
Tapi etep aja Rama ga ada kabar.
"Ramaaaaaaaa................................!!!!!"
Dan kemudian,
.........................................
05 detik...
10 detik...
15 detik...
1 menit....
Ga cuman Rama yang ilang, suara kakak gue juga mendadak ilang. Gue dan anggota keluarga lain yang udah biasa keganggu ama tuh teriakan jadi heran, kemana tuh induk sama anak ya???. Tapi masa Bodoh lah, paling kakak gue pingsan kehabisan tenaga, abis teriak2. Sedangkan Rama??? paling juga main ke rumah temennya. Gue sama keluarga malah bersyukur kakak gue pingsan, sebab sekarang kita bisa tidur siang lagi dengan tenang tanpa gangguan. "Kakakku pingsannya yg lama ya... biar adekmu ini puas tidur siangnya" harapan seorang adek yang kejam.

(bersambung)
Diposting oleh cafelosophy di 13.09 | 5 komentar  
Sabtu, 16 Agustus 2008

Anti (Poli) Tikus

(Orasiku menjelang 17 Agustus 2008)

Bagaimana aku bisa merapal mantera Pancasila? Bila para elite politik terus mencekik leherku. Mereka bahkan memaksaku bernyanyi Indonesia Raya dengan suara merdu. Setelah masa depanku terbakar di gedung DPR dan jalan medan merdeka.
Wahai pemuda jangan biarkan mereka bicara demi rakyat. Makan demi rakyat. Berkendara sedan demi rakyat. Berpelesir demi rakyat. Berzinah demi rakyat. Korupsi demi rakyat.

Kita harus bertanya: "Rakyat yang mana yang kau wakili?"

Karena aku tak terwakilkan! Kau tak terwakilkan!!! bahkan seluruh rakyat tak terwakilkan!. Demokrasi bukan penindasan atas nama rakyat. Demokrasi bukan pembunuhan atas nama rakyat. Demokrasi bukan kelaparan untuk rakyat, pembodohan untuk rakyat, ketertindasan untuk rakyat. Tapi pejabat yang mengabdi pada rakyat!!!. Bila tidak, jangan kau tanya nasionalisme ku!. jangan kau harap baktiku!.
Jangan kau memintaku jadi Pendawa! karena aku dibesarkan oleh segerombolan kurawa di kerajaan penuh dusta. Makan mayat saudara sendiri wajib hukumnya di negeri ini. Tak ada bunga harapan yang mampu tumbuh, sebelum para politikus mati berkalang tanah.
Bunda Pertiwi yang ku cinta...
Tuhan pendengar setia orasi hatiku...
Bunuh para politikus bangsat
Monster-monster penghisap darah rakyat
Aku sudah lelah memberontak
Lelah berteriak di depan istana
Aku ingin berbaring berselimut merah putih malam ini
Sebelum ku kembali bangun tanpa hari esok
Diposting oleh cafelosophy di 14.24 | 9 komentar  
Rabu, 06 Agustus 2008

Abang jangan tipu adekmu ini

Namanya Aang. Doi bukan avatar, tapi kakak ke3 gue dikeluarga. Gue ga tau mesti komentar apa tentang abang gue yang satu ini. Lucu...(pasti) Aneh...(dikit) Gokil...(lebih) Gila..(ga sampe). Pokoknya susah banget dah buat ngasih testimonial yang pas buat bokapnya Sofa. Doi adalah salah satu dari 3 sarjana bahasa indonesia yang hidup di keluarga besar gue. Dan asal lu tau aja, prinsip sarjana bahasa+sastra indonesia seperti mereka adalah, "semakin susah omongan lu buat dimengerti, semakin lu dianggep pinter". Makanya gue ga suka dengerin omongannya, abiz 99% bisa dipastiin tuh omongan pasti nyesatin. Pokoknya doi mah udah sesat nyesatin. *wakakak maaph ya abang*
Gue masih inget gimana gue dipermalukan didepan penjaga toko pujaan gue. Waktu itu gue masih kecil, *maklum belum disunat* badan gue lagi gatel2 dan atas saran bokap, gue disuruh beli sabun ajaib pembunuh kuman penyebab gatel2. Sialnya bokap gue lupa nama tuh sabun. Tapi untung otak bokap gue masih nyimpen satu clue tentang sabun ajaib yang bisa ngilangin gatel itu.
"Pokoknya sabun itu ngandung alfur ato apa....gitu" kata bokap gue ragu. Ngedenger bokap gue yg ga yakin sama omongannya, gue malah tambah bingung.
"Alfur....." gue ga yakin sama apa yg diomongin bokap.
Untung ga lama kemudian sarjana bahasa indonesia kebanggan keluarga lewat. Doi adalah salah satu anggota keluarga yang punya kewenangan intelektual tentang bahasa. Bokap pun segera tanya sama anak kesayangannya itu.
"Ang..."
"Iya ayahanda, ada yang bisa ananda bantu?" tanya abang gue nggunain ejaan yang disempurnakan alias EYD.
"Sabun apa sih yg ampuh buat ngilangin gatel2 itu?" tanya bokap
"Apa ya ayahanda? ananda juga lupa"
"Kalo ga salah sih alfur gitu"
"Oh iya ayahanda, bukan alfur tapi..."
"Tapi apa?" tanya bokap gue penasaran
"Akupuntur"
"Iya Akupuntur" teriak bokap girang karena udah bisa mecahin teka teki yg dibuatnya sendiri.
Akhirnya dengan langka gegap gempita gue pun berangkat ke toko samping rumah. Toko yang banyak dikunjungi pemuda seantero desa, karena penjaganya yang rupawan (waduh). "Mina... Mina..." teriak gue dalam hati girang karena bakalan ketemu sama tuh penjaga toko. Bahkan gue udah ngebyangin yang engga-engga. Tapi ga disangka bukannya cepet2 bilang mau beli apa, gue malah diem ngeliat Mina yang rambut panjangnya dibiarkan tergerai.
"Mau beli apa?" tanya Mina
"........................" gue ga bisa jawab karena asik merhatiin muka Mina yang mirip artis mandarin.
"Mas....mau beli apa?" kali ini Mina setengah teriak. tapi tetep aja gue ga rela buat ngelepasin muka Mina dari pandangan gue.
"Mas...." kata Mina sambil ngelambaiin tangannya pas didepan kedua mata gue. "Mas ga lagi kerasukan jin kan?"
"Sialan" bisik gue dalam hati.
"Ah enggak kok, gue mau beli sabun" kata gue
"Sabun apa?" tanya Mina, pertanyaan inilah yang gue tunggu2 dari tadi karena gue bakalan bilang tentang sabun yg mungkin Mina sendiri ga ngerti, karena yg ngerti sabun ini cuman sarjana bahasa+sastra indonesia macam abang gue. Makanya begitu gue bilang nama tuh sabun yang intelek plus ilmiah, bisa jadi Mina bakalan jatuh cinta sama gue. Dengan gagah dan suara yg mantaf gue pun bilang ke Mina dengan lantang, "Sabun akupuntur!!!"
"hahahaha" Mina ketawa ngakak sampe nungging2 ngedenger omongan gue.
"Kok ketawa???" tanya gue bingung
"maaf" jawab Mina, "Maksdu kamu sabun yang ngilangin gatel2 itu kan?"
"Iya..." jawab gue ngerasa tak berdosa
"itu sih bukan sabun akupuntur tapi sabun sulfur"
"What!!!" teriak gue langsung kabur dari depan toko.
"Woi mas jadi beli sabun akupuntur ga??" teriak Mina ngejek gue sambil ketawa
Gue yang ga kuat nanggung beban malu pun cuman bisa berlari lebih kenceng biar ga keliat lagi sama Mina. Akhirnya gue lebih milih gatel2 1 minggu dari pada ketemu Mina lagi.
"Sialan lu bang!!"
Diposting oleh cafelosophy di 15.57 | 10 komentar  
Langganan: Komentar (Atom)