Sabtu, 16 Agustus 2008

Anti (Poli) Tikus

(Orasiku menjelang 17 Agustus 2008)

Bagaimana aku bisa merapal mantera Pancasila? Bila para elite politik terus mencekik leherku. Mereka bahkan memaksaku bernyanyi Indonesia Raya dengan suara merdu. Setelah masa depanku terbakar di gedung DPR dan jalan medan merdeka.
Wahai pemuda jangan biarkan mereka bicara demi rakyat. Makan demi rakyat. Berkendara sedan demi rakyat. Berpelesir demi rakyat. Berzinah demi rakyat. Korupsi demi rakyat.

Kita harus bertanya: "Rakyat yang mana yang kau wakili?"

Karena aku tak terwakilkan! Kau tak terwakilkan!!! bahkan seluruh rakyat tak terwakilkan!. Demokrasi bukan penindasan atas nama rakyat. Demokrasi bukan pembunuhan atas nama rakyat. Demokrasi bukan kelaparan untuk rakyat, pembodohan untuk rakyat, ketertindasan untuk rakyat. Tapi pejabat yang mengabdi pada rakyat!!!. Bila tidak, jangan kau tanya nasionalisme ku!. jangan kau harap baktiku!.
Jangan kau memintaku jadi Pendawa! karena aku dibesarkan oleh segerombolan kurawa di kerajaan penuh dusta. Makan mayat saudara sendiri wajib hukumnya di negeri ini. Tak ada bunga harapan yang mampu tumbuh, sebelum para politikus mati berkalang tanah.
Bunda Pertiwi yang ku cinta...
Tuhan pendengar setia orasi hatiku...
Bunuh para politikus bangsat
Monster-monster penghisap darah rakyat
Aku sudah lelah memberontak
Lelah berteriak di depan istana
Aku ingin berbaring berselimut merah putih malam ini
Sebelum ku kembali bangun tanpa hari esok
Diposting oleh cafelosophy di 14.24 |  

9 komentar:

Langganan: Posting Komentar (Atom)