Sabtu, 17 Oktober 2009

Ciputat Dalam Persimpangan

Dulu saran orang tua kepada anaknya yg kuliah di UIN Ciputat, “Nak silahkan kuliah di UIN, tapi jangan jadi mahasiswa-nya Karl Marx atau Ulil Abshar”. Maklum, di kota kecil sebelah selatan Jakarta ini, identik dengan kebebasan berfikirnya. Banyak organisasi islam berebut dan menggembleng kadernya di kampus UIN (dulu IAIN). Keadaan komunitas yg plural ini sudah lama ada di Ciputat. Tak heran bila Ciputat dianggap mempunyai madzhab sendiri, yakni Islam madzhab Ciputat.

Komunitas yg plural dengan pemikiran yg radikal di IAIN waktu itu, menyebabkan tudingan miring terhadap IAIN. Mulai dari tudingan IAIN sarang pemurtadan, sampai memelesetkan kepanjangan IAIN (Institut Agama Islam Negeri) menjadi Ingkar Allah Ingkar Nabi.

Namun seiring berjalannya waktu, setelah IAIN resmi berganti nama UIN, pertentangan ideology yang dibangun lewat lembaga kajian, perlahan mulai surut. Dampak dari turunnya animo mahasiswa terhadap lembaga kajian. Sehingga hanya menyisakan “pertarungan” antar dua ideology yakni: Islam moderat dan islam fundamental.

Islam moderat diwakili oleh organisasi semacam: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Ikatan Mahasiwa Muhamadiyah (IMM). Sedangkan islam fundamental berkembang seiring berkembangnya KAMMI, Lembaga Dakwah Kampus (LDK), dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). “Pertarungan” babak baru ini mulai seimbang, ketika IAIN berubah menjadi UIN dan membuka jurusan umum yang mahasiswanya didominasi lulusan SMA bukan dari kalangan pesantren dan Madrasah Aliyah seperti masa IAIN dulu.

Pergeseran background pendidikan mahasiswa UIN, dari pesantren dan madrasah aliyah ke SMA, ternyata secara tidak langsung, membuat organisasi islam fundamental berkembang. Mahasiswa yg berasal dari SMA sudah akrab dengan organisasi rokhis dan awam dengan organisasi-orginasi islam moderat yg memang tidak punya organisasi taktis di SMA. Sehingga begitu mereka masuk UIN, mereka akan memutuskan bergabung dengan organisasi “induk” yakni: KAMMI, LDK atau HTI. Begitu juga sebaliknya, para lulusan pesantren dan madrasah aliyah yang sudah akrab dengan islam moderat atau tradisional akan bergabung dengan HMI, PMII atau IMM.

Sehingga kalau kita lihat saat ini di UIN, basis masing-masing ideology dapat ditebak dengan mudah. Fakultas-fakultas islam “peninggalan” IAIN masih didominasi oleh organisasi islam moderat. Sedangkan fakultas-fakultas umum (baru dibuka setelah berubah menjadi UIN) menjadi basis organisasi islam fundamental, walaupun tidak keseluruhan.

Namun disaat pergulatan ide dan wacana ini mulai menarik. Kedua pihak dikagetkan dengan penangkapan mahasiswa UIN yg terlibat kasus terorisme. Kebetulan para mahasiswa ini belajar di fakultas sains dan teknologi yang tergolong fakultas umum. Apakah kejadian itu ada kaitannya dengan “pertarungan ideology”? entahlah. Pastinya, kasus terorisme bukanlah kriminal biasa seperti halnya copet. Banyak kepentingan yg ikut serta dalam kasus ini. Tapi bagaimanapun hal itu sangat disayangkan oleh semua pihak. Bahkan Rektorat terlihat responsive dengan akan mengubah kurikulum. Pertanyaannya, seberapa efektif langkah itu? Mengingat pemikiran mahasiswa dibangun saat dia sekolah, bukan saat dia kuliah. Karena kuliah hanyalah memperkaya wacana, bukan membentuk pribadi seseorang.

Mungkin saat ini, ada baiknya kalau orang tua mahasiswa UIN berpesan pada anaknya, “Nak silahkan kuliah di UIN, tapi jangan jadi teroris”

Diposting oleh cafelosophy di 18.29 |  

2 komentar:

Langganan: Posting Komentar (Atom)