Rabu, 30 April 2008

Selamatkan Dewi Persik

Gue ga habis pikir kenapa walikota rame-rame nyekal Dewi Perisk? emang masih ada yang nonton goyang murahan?. Kadang gue bingung buat mahamin pemikiran mereka. Apa mereka lupa dengan kasus inul daratista? makin dicekal makin banyak yang penasaran, imbasnya job mereka makin rame!. inget sensasi di bisnis hiburan adalah PUPUK. makin banyak sensasi, makin dikenal, makin banyak fans, makin ngalirlah job!.
Lagian pencekalan bukan jalan keluar, kalau emang itu kesukaan masyarakat percuma dilarang, ujung-ujungnya juga bakalan dilanggar. Buktinya Filem Bokep (blue film) udah berapa tahun dilarang? tapi di Pasar Glodok dijual kayak kacang! (siapa sih yang ga pernah nonton tuh pilem?). Udahlah dari pada ngurusin Dewi Persik mendingan para Walikota itu ngurusin rakyatnya yang tertinggal, majuin tuh pendidikan, sehingga mereka bisa bedain mana yang baik dan buruk. So artis murahan, ga berbakat cuman bisa jual kemolekan tubuh macam Dewi Persik dengan sendirinya ga laku!.
Gue yakin walaupun dewi persik dicekal, masih banyak artis yang bermental serupa tapi ga dicekal macam trio macan dll (apa semuanya mau dicekal? ga realistis! bahkan bodoh!). kita mesti belajar dari proses sehingga menjadi lebih arif, bukan jadi reaksioner yang hanya memicu anarki dan main hakim sendiri.

Diposting oleh cafelosophy di 22.05 |  

1 komentar:

Langganan: Posting Komentar (Atom)