Kamis, 06 November 2008

Is Obama The Next Gorbachev?

Seluruh dunia merayakan kemenangan Obama. Seakan perubahan itu tinggal selangkah, tapi hati kecil saya meragukan Obama bisa membuktikan janji-janjinya. Obama & semua rakyat Amerika tentunya ingat dengan Mikhail Sergeyevich Gorbachev. Presiden terakhir dari musuh bebuyutan USA sewaktu perang dingin, Uni Soviet.
Dalam beberapa hal ada kesamaan antara Obama dan Gorbachev. Yakni sama2 ingin melakukan perubahan yang fundamental terhadap negara masing2, saat negara mereka mengalami jalan buntu. Meskipun Obama masih perlu membuktikannya. Sedangkan Gorbachev telah melaksanakannya.
Bahkan ajaran gorbachev terhadap uni soviet yg antara lain glasnost (liberalisation) dan perestroika (restructuring) berhasil membikin negara ini berantakan, meskipun bagi gorbachev itu seharga dengan nobel perdamaian, tapi dia harus merelakan kepemimpinan Uni Soviet terhadap pihak garis keras (lewat kudeta). Melihat sejarah uni soviet yg hancur karena perubahan yang fundamental (bertolak belakang dengan kebijakan negara Soviet selama itu) apakah obama juga berani mengambil resiko untuk melakukan perubahan fundamental terhadap kebijakan USA yang sudah berjalan selama ini? saya kira tidak. Coba kita tengok bagaimana pendapat Obama yang menentang perang Irak, tapi mendukung perang Afganistan. Itu artinya Obama tidak akan lepas dari kerangka kebijakan politik luar negeri pendahulunya, George Walker Bush. kalaupun ada perubahan, itu tidak akan seperti yang diharapkan para pendukungnya di seluruh dunia.
Apalagi Amerika saat ini bisa dikatakan multy krisis. Saat negara adidaya ini terus bersimbah peluh di Irak & Afganistan. Saat teror terus mengintip mereka, Ekonomi negara ini juga mulai rontok. Mungkin karena isu ini juga yg mengantarkan obama ke gedung putih. Dia menginginkan perubahan, pertanyaannya: sejauh mana dia akan melakukan perubahan? Bukankah amerika adalah amerika serikat bukan Amerika Obama? Kalo berkaca pada Gorbachev, saya yakin seyakin-yakinnya Obama tak akan berani melakukan perubahan fundamental terhadap amerika. Atau kalo dia ngotot melakukannya, tentunya julukan the next gorbachev pantas dia sandang.

(Udahlah ga usah dianggap serius, toh tulisan ini gue tulis buat sekedar dongeng menjelang tidur. Akhirnya gue cuman bisa bilang sama mantan murid SDN 1 menteng itu; Congratulation Berry may God bless you)
Diposting oleh cafelosophy di 14.18 |  

0 komentar:

Langganan: Posting Komentar (Atom)