Sabtu, 30 Oktober 2010

Kelulusan yang Tidak Dikehendaki oleh Alam

Malam ini gue utak-atik blog lagi, alhasil gue bisa masuk dan posting tulisan. Meskipun cara gue masuk ke beranda blog janggal, tetep aja judul malam ini: gue BERHASIL. untungnya ini bukan masalah akademik, yang harus dicari metodologi dan rumus statistiknya. (skripsi-phobia) Kalo diibaratkan, gue kehilangan kunci buat buka pintu rumah gue, karena gue ga mau repot, ya udah gue dobrak aja pintunya, toh ini rumah gue sendiri, sapa juga yang berani protes? hehehe
ngeliat tipi akhir-akhir ini yang beritanya bencana mulu, bukannya bikin gue happy malah sedih. daripada gue nangis sesenggukan didepan tipi kayak umat Cinta Pitri, iseng-iseng gue nulis lagi di blog.
Letusan merapi ternyata menyita banyak pasang mata untuk menoleh ke jogja. Dari bencana dahsyat yang menelan korban jiwa itu, tak hanya orang indonesia saja yang diberi pelajaran bagaimana bertanggung jawab terhadap tugas oleh seorang juru kunci merapi. Bahkan teman sekaligus guru saya Mrs. Grace Chao guru Connections Public Charter School Hilo, Hawai'i-pun ikut berduka dengan kepergian mbah maridjan. Kebetulan beliau dengan beberapa guru dari USA sempat bertemu Mbah Maridjan di rumahnya, saat mereka melakukan kunjungan ke indonesia. Dari Emailnya beliau bilang:
"Our group met with Bapak Mbah Maridjan at his home at Mt. Merapi this past summer, and its very sad to hear of his passing. He is a role model for being such a loyal and responsible care taker to his calling in life."
Gue sempet garuk-garuk kepala pas baca tuh email, busyet ternyata Mrs. Grace sempet ketemu Mbah Maridjan (gile). Gue aja belum (sedikit nyesel karena belum sempet poto bareng mbah marijan). Sambil dengerin lagunya Cak Dikin Mbah Maridjan pancen roso, gue juga kepikir temen-temen gue di jogja. Ada Dion, Petra, Cia dan ririn. Untunglah mereka selamat dan ga kena amukan wedus gembel. Mereka juga masih pada asik di kosan masing-masing. Padahal gue berharap banget liat muka mereka nongol di tipi (ehm...kejam)
dengan sedikit becanda gue bilang ke Petra
"selamat anda masuk kualifikasi bintang iklan kuku bima energi rosa selanjutnya (menggantikan mbah maridjan)"
hehehe
Tapi gue juga curiga letusan merapi kali ini ada sangkut pautnya dengan salah satu nama oknum yg gue sebutin diatas, yakni: Ririn. Jelas saja, nih mahasiswa udah hampir expired, dan dengan susah payah berhasil diwisuda bulan ini. (jadi judul episode misteri gunung merapi kali ini adalah: kelulusan seseorang yg tidak dikehendaki alam) hahaha ups maaf bukan maksud saya tersenyum diatas penderitaan orang lain. saya hanya ingin menyampaikan pesan:
"Sobat meski jogja ujan debu, jangan lupa tersenyum (dengan tetap memakai masker tentunya)"
Diposting oleh cafelosophy di 22.05 | 3 komentar  
Jumat, 29 Oktober 2010

Terusir Dari Halaman Blog Sendiri

Niat hati hendak ngeblog lagi, tapi apalah daya mood sudah sirnah.
Gara-gara tampilan blogspot baru, gue hampir saja ga bisa log in ke blog sendiri (sial). buat admin blogspot, "kabarin dong kalo ada perubahan" masak ditinggal 7 bulan saja dikau sudah berpaling hati (ehm...capek deh).
Gue mo nulis apa ya? (bingung euy)
oh iya, kabar baik buat temen-temen (terutama penjaga warteg pesanggrahan dan sekitarnya) gue udah lulus dari kampus. Seru! pengalaman ini tak akan terlupakan sepanjang hidup. Gue bisa lulus di ambang gerbang DO (drop out) alias injury time. Jadi gue ga minta belas kasihan pada nasib dengan adu tendangan pinalti (maksudnya; perpanjangan masa kuliah).
Mungkin karena selesai kuliah tepat di semester 14 dan tidak sampai 15 inilah, gue jadi suka sama lagunya seringai yang berjudul berhenti di 15. (ngawur) kata dosen pembimbing skripsi gue "tidak ada korelasi yang jelas"
udah ah...
sambung besok-besok
Diposting oleh cafelosophy di 23.00 | 0 komentar  
Minggu, 28 Februari 2010

INSOMNIA

Pasti ada satu malam, diantara tujuh malam dalam seminggu, atau tiga puluh malam dalam sebulan, mendadak lu jadi orang asing. Ga ngerti apa yang ada di otak lu, pengen apa, mesti ngapain, blank dan ga bisa tidur. Itulah yang terjadi sama gue malam ini. Entah udah berapa jam mata gue natap langit-langit kosan dan ngebayangin domba yang berjejer rapi dan wangi buat diitung, tapi tetep aja mata gue ga pengen nutup. Mungkin mata gue lagi terkena virus opens 24 hours ala circle K ato McD. Entahlah…
Dengerin musik, udah bosan. Liat tipi, ga ada acara yg bagus. Nonton pilem, ga punya DVD baru. Satu-satunya hiburan yg bisa diharepin dipagi buta gini, paling cuman adegan 17+ ala cicak-cicak penghuni atap. Sialnya, kadang harapan tak selalu jadi kenyataan. Pagi ini ga ada goyangan panas (striptease) ala cicak, mungkin mereka lagi liburan long weekend ke luar kota. Sepi, sendiri dan gelap, bikin gue teringat cerita-cerita horror (mungkin lebih tepatnya; urban legend) sewaktu gue masih di asrama dulu.
Gue ga tau, cerita ini sungguhan, ato cuman karangan si pecundang, yang ga berani pergi ke toilet malem-malem. Kalo cerita ini hanyalah hasil imajinasi seseorang, kayaknya tuh orang wajib diganjar Nobel Sastra!!! Soalnya cerita yang bakal gue tulis ini, berhasil bikin gue dan temen-temen asrama nahan pipis (pergi ke toilet) sampe subuh!
Kisah ini gue dapet pas gue kelas 1 SMP dan tinggal di asrama. Entah siapa yang memulai cerita ini, katanya kisah ini setua bangunan asrama yang mempunyai lorong-lorong panjang nan temaram di malam hari. Sayangnya, waktu itu gue belum secerdas sekarang. Sehingga gue ga kepikiran buat masukin cerita ini sebagai materi orientasi siswa baru (sayang…)
Malam itu, dipertengahan tahun 1996. Jam dinding di kamar menunjukkan pukul 21.00. gue liat temen-temen sedang bergerombol di pojok kamar. Karena penasaran gue-pun ikutan gabung. Ternyata mereka sedang asik dengerin Bedul (bukan nama yang disamarkan) cerita. Ga mo dicap sombong, gue-pun segera jadi anggota majlis Bedul malam itu.
“Cerita ini bukan karangan gue, karena gue diceritain sama kakak gue, yang dapet cerita dari temannya yang dapet cerita dari keluarganya dari tetangga yang pernah tinggal di asrama ini juga” ujar Bedul.
“Nah emang tetangga dari keluarga teman kakak lu itu angkatan ke berapa di asrama ini?”
“Dia angkatan pertama dan bukan orang sembarangan, karena dia juga ikut bekerja mendirikan bangunan asrama ini” jawab Bedul dengan yakin dan mantap.
“Wow…” kami semua takjub dengan keabsahan sumber cerita yang mo disampein sama Bedul.
“Dulu, penghuni asrama ini tidak sebanyak sekarang. Masih sekitar puluhan orang” Bedul mulai bercerita.
Malam itu kebetulan malam jum’at dan sedang gerimis, di luar asrama terdengar suara petir, sesekali cahaya kilat masuk ke dalam kamar menembus jendela-jendela kaca dan ventilasi. Sebagian penghuni kamar tidur lebih awal, karena tidak ada kegiatan mengaji dimalam jumat. Sehingga suasana menjadi sunyi. Pintu gerbang dari sore sudah ditutup.
Menjelang jam 8 malam, petugas jaga dikejutkan sosok perempuan berbaju kebaya dan berjarik kain batik yang berdiri di depan pintu gerbang. Kerudung hitam yang dipakainya basah kuyub, sehingga menempel di rambut panjangnya. Wajahnya terlihat kebiru-biruan karena menahan dingin yang menerpa tubuhnya.
Petugas jaga segera menghampiri perempuan itu. “Mbak ada perlu apa?”
“Mas tolong saya, saya pengen bisa ikut ngaji di asrama ini. Bolehkan?”
“Boleh saja, tapi nama mbak siapa? Dan dari mana?” Tanya petugas jaga yang belum berani membuka pintu gerbang.
“Nama saya Herlina, saya dari Jombang. Saya melarikan diri dari rumah, karena tidak diizinkan sama orang tua saya mengaji”
Mendengar kisah hidup Herlina, petugas jaga jadi ibah. Sehingga ia mempersilahkan Herlina masuk dan mengantarkannya ke kantor asrama untuk mendaftar sebagai murid di asrama ini.
Begitulah awal nama Herlina mampir ke telinga gue. Sumpah! Nama ini bukan karangan gue, tapi asli menurut shohibul qisoh. Sejak itu, nama Herlina sejajar dengan nama Mak Lampir, dan Nyi Pelet di otak gue. menyeramkan....

bersambung
Diposting oleh cafelosophy di 21.17 | 2 komentar  
Kamis, 21 Januari 2010

facebook SBY

Beginilah kira-kira kalo SBY facebookan sama "teman-temannya". Gambar ini gue dapet dari Abdul Latif, temen kuliah sekaligus temen facebook. Ga tau tuh anak dapet dari mana, yang pasti pembuat gambar ini tentulah orang yg KREATIF sekaligus jeli melihat keadaan politik saat ini.
Ada banyak hal yang terangkum dari gambar ini. Pertama: facebook yang emang udah jadi area curhat dunia. Dimana hampir setiap saat kita baca keluhan orang-orang. Kedua, tentu saja permasalahan politik dalam negeri, semenjak SBY menjabat presiden untuk kedua kalinya, kayaknya terus-terusan di PDKTin sama masalah (mungkin masalah emang lagi jatuh cinta sama SBY). Ketiga, politik di USA, dimana Obama juga menghadapi masalah yang banyak, tapi dia bisa menyelesaikan dengan kerja keras! (bukan mengeluh depan kamera tipi ato malah facebookan). Kelima, tentu saja tentang sengketa budaya; dimana tetangga kita suka mencuri (mungkin lebih tepatnya mencopet) budaya negara kita, tanpa rasa malu. Dan yang paling penting; SBY harus belajar dari Gloria Arroyo kiat-kiat lepas dari ancaman impeachment.
akhir kata: SALUT BUAT CREATOR GAMBAR DIATAS. (you are rock man!)
Diposting oleh cafelosophy di 22.47 | 0 komentar  
Senin, 18 Januari 2010

Happy Bird Day

Hari ini mendadak wall facebook gue penuh dengan ucapan: happy birth day yang kalo di baca akan serupa dengan "happy bird day" alias selamat hari burung girang (whats!). Come on guy's my bird is totally fine and health. He is NOT happy today because I'm single, but may be some day he will be happy (i promise for that) hehe. English language is not our language (ngomong dengan gaya Cinta Laura) it is foreign language, so kadang kita salah ngucapin ato malah salah denger. Ada beberapa pengalaman lucu gue sama temen2 di kosan, tentang bahasa inggris. Kita dulu sering dengerin lagu yang liriknya begini "looking to my eyes ..." karena salah denger, temen gue dgn PeDe malah nyanyi "looking to my ass..." (walah kadah!). Untung nilai bahasa inggris tetangga kita -9, kalo nggak bisa rusuh tuh kosan. Terus ada lagi minuman favorite kita, namanya: banana milk shake, karena merasa terlalu panjang dan ribet, temen gue suka bilang Banana Boat! (ga nyambung!) tapi ga apalah toh kita semua paham apa maksud beliau itu.
Kembali ke masalah awal, sebelum facebook ditemukan (soalna facebook juara petak umpet 9x berturut2 jadina susah ditemukan) dan friendster masih barang yg aneh, tiap tanggal 18 januari, inbox hp gue akan penuh dengan ucapan yg sama dari temen2 gue itu. Emang sih sedikit janggal, orang makin deket dengan kematian kok diberi ucapan selamat. Tapi namanya juga budaya, mau ga mau, suka ga suka, gue harus bisa nerima. Karena kenyataan adalah fakta yang absah dibandingkan hanya sebuah pemikiran. Apalagi itu pemikiran mahasiswa yg hampir expired dan gila, macam gue.
Ngomongin birth day "yang beneran" bukan bird day lho ya, bikin gue teringat masa2 kecil gue dulu. Masa dimana gue masih ngompol, belum ada listrik, sampe liat muka my most enemy Soeharto secara langsung. Gue berharap bisa nulis kisah itu (i still remember).
Akhirnya gue pengen ngucapin terima kasih yang sebesar-besarnya kepada facebook, karena udah ngingetin gue, kalo 25 tahun yang lalu gue dilahirin. Asli gue lupa kalo hari ini Ultah... hehehe
thanks broth and sist yang udah nyempetin nulis di wall gue
Diposting oleh cafelosophy di 10.52 | 2 komentar  
Selasa, 05 Januari 2010

PNS vs Wiraswasta

Menurut pendapat Sosiolog David Mc Clelland, suatu negara bisa menjadi makmur bila ada entrepreneur sedikitnya 2% dari jumlah penduduknya. Singapura sudah 7,2%, sedangkan pada 2001 di Indonesia baru 0,18% dari penduduknya yang menggeluti dunia wiraswasta.
Mungkin karena sarjana di negara ini lebih suka jadi PNS, sedangkan anak mudanya memilih jadi anak band ato artis sinetron. Baru kalo pilihan pertama gagal, mereka akan mencoba pilihan ke dua. Falsafah inilah yang diajarkan oleh menteri pendidikan lewat SPMB (UMPTN) ato apalah namanya sekarang. Makanya gue ga heran, waktu temen gue yang Sarjana Pendidikan Agama Islam, banting setir jualan kopi. Pas gue tanya, "kenapa lu buka warung kopi?"
"Ya mau ngapain lagi? udah ga ada harapan masuk PNS!" jawab dia enteng.
Mungkin bagi sebagian orang (kelas menengah) PNS adalah satu-satunya "jalan tengah". Dimana "kesejahteraan" dan "pengahargaan" bisa mereka gapai. Hal ini juga menunjukkan bagaimana paradigma tentang pendidikan yang ditanamkan oleh Belanda, masih tertancap diotak sebagian besar rakyat indonesia.
Pendidikan hanya menyiapkan, tenaga-tenaga terampil untuk keperluan birokrasi dan industri. Disaat industri belum terlalu maju di negara ini, maka berbondong-bondonglah rakyat masuk pegawai negeri. Karena ga kebagian tempat, sebagian orang rela menjadi "makelar" bagi saudaranya sendiri.
Disinilah, seharusnya dunia pendidikan dan pemerintah berkerja sama untuk mendirikan sekolah yang berorientasi wiraswasta. Karena peluang disana masih cukup terbuka. Banyak orang yg berwira swata bermodalkan tekad dan kepepet. Sehingga usaha mereka-pun setengah-setengah. Ada bainya bagi anda yg tidak diterima menjadi PNS untuk menyimak tips-tips berikut:
Perlu anda ingat memulai usaha hanya butuh mengingat 3 kata, yakni:
Passion: ketertarikan. Percuma bikin usaha kalo anda sendiri ga tertarik dengan bidang itu.
Vision: visi. Pandangan kedepan tentang usaha yang akan anda jalani.
Action: jangan biarkan itu hanya ada di wacana saja. Tapi segera realisasikan ide anda, sebelum dicontek sama orang lain.
Dunia kerja bukan main-main. Karena kalo kita udah ga bisa ngebedain antara kerja dan main, maka kesuksesan pastilah diraih.
Diposting oleh cafelosophy di 20.04 | 2 komentar  
Senin, 04 Januari 2010

Diet Organic


Makin hari, nyamuk di kosan makin ramai. Bak pepatah ada gula ada semut. Berkumpulnya nyamuk di kosan, juga mampu menarik serikat pemburu nyamuk alias cicak and the gank buat ikut-ikutan nimbrung.

Kedatangan mereka adalah hasil buah pemikiran Ieday, philosof aliran insidental abad XXI. Terinspirasi dengan gerakan anti global warming dan back to nature, sebulan ini racun pembunuh nyamuk dilarang penggunaannya di kosan.

Ide itu muncul pada suatu sore, saat kami bertiga (gue, Ieday dan Sutan) duduk santai beralas tikar bekas di bawah pohon mangga belakang kosan. Menikmati kopi lampung seduhan sendiri, sambil memandangi sunset. Obrolan ringan pun dimulai. Gue diapit sama aktivis dan biblioholic, obrolan yang semula ringan-pun, mereka jadikan berat dan rumit. Melibatkan nama-nama pemikir asing yg nomer hpnya ga gue tau.

Kalo mereka berdua bak Budha yang mendapatkan pencerahan di bawah pohon mangga. Maka gue bengong kayak kesambet jin penunggunya. Semua kata, frase, kalimat yang mereka ucapkan selalu sukses bikin gue diem. Pilihan saat itu, gue komentar sambil mamerin kebodohan ato gue diem dalam kesesatan.

“Pada dasarnya Tuhan menciptakan alam dalam keadaan seimbang. Penggunaan racun untuk membunuh satu spesies untuk kepentingan kita, sama saja genosida. Sebuah kesalahan yang tak terampuni” jelas Ieday sambil merhatiin muka gue dan Sutan.

“Intinya gini Bong” tambah Sutan yang mafhum dengan muka bingung gue, “mulai dari sekarang kita ga akan make racun buat bunuh nyamuk di kosan”

“Nah terus, gimana kita bisa tidur kalo banyak nyamuk?” tanya gue kebingungan.

“Tenang sahabatku, Tuhan ga bikin nyamuk tanpa penyeimbang. Masih ada cicak dan tokek yang ada di pihak kita”

“Maksud lo?! Kita ngandelin cicak sama tokek buat ngebasmi nyamuk di kosan gitu? Naïf! Lu berdua”

“Demi sebuah keyakinan, penderitaan tak akan mampu menghentikan langkah kita”

“Jangan berkorban untuk tidak tidur, darah-pun siap aku tumpahkan sobat”

“Atur aja deh!” kata gue lemes

“Hanya dengan cara ini Sob, kita bisa melampiaskan insting purba kita” sahut Sutan penuh semangat.

“Apalagi sih Tan? Jangan bikin gue tambah stress deh”

“Dengan mebiarkan nyamuk sehat tanpa terinfeksi racun, kita bisa lebih semangat memburunya Sob!”

Sebenernya gue curiga dengan pemikiran Ieday dan Sutan. Jangan-jangan ada konspirasi dibalik pemikiran mereka berdua. Gue sih nyangka motif tersembunyi mereka adalah: diet dengan cara organic! Dengan membiarkan badan gendut mereka dihisap habis-habisan sama nyamuk, sehingga bisa kurus dalam waktu sekejap.

“Ow…kejam!” bisik gue dalem hati. “mereka sih enak gendut, lah gue kan kurus!”

Diposting oleh cafelosophy di 19.36 | 1 komentar  
Sabtu, 02 Januari 2010

GillAbong

Memasuki tahun 2010, gue dapet panggilan baru: Gillabong. Bukannya pengen nyontek brand pakaian surfing asal Australia. Ato biar keliatan gaol. Tapi itu semua gara-gara temen gue yang nggontok stadium 4 sama gue.
Alkisah, akhir 2009 banyak orang yang nanya kerjaan sama gue. Oh my Gosh! please deh, lu kira gue Mama Laurent ya? yang bisa ngeramal masa depan lu?!
"Bukan bong, gue ga mo lu ramal. Tapi gue nanya informasi lowongan pekerjaan sama lu!" timpal temen gue yang mungkin aja ngeliat muka gue kayak kolom iklan di koran.
"Sabar..." bisik gue dalam hati.
"Nah yang sarjana-kan elu! kok malah nanya kerjaan ke gue sih!"
"Selama ini kan lu banyak info!" bela temen gue, "please ya bong, gue udah sebulan nganggur nih!"
"Yaelah lu baru aja sebulan, gue udah 25 tahun nganggur Bu!"
"Lu nganggur juga produktif!"
"Iya sih, sebenernya gue ada kerjaan dan masih butuh orang" mulailah bakat iseng gue muncul, untuk ngerjain nih orang.
"Tuh kan... lu mah gitu sih sama temen sendiri. Suka main rahasia2an. kerja apaan Bong?"
"Ada-lah.. cuman tugasna agak berat Bo'. Kira2 lu sanggup enggak?"
"Gue siap kerja apa aja Bong"
"Ya udah kalo gitu. Kerjaan ini akan gue kasih ke elu"
"Makasih ya Abong yg ganteng... kerjanya apa nih?"
"Ini kerjanya freelance, tapi butuh ketekunan dan kesabaran" kata gue mencoba serius.
"MLM ya? ih ogah!"
"Bukan MLM, tapi pengamat pertelevisian Indonesia"
"Wow berat banget Bong! terus tugas gue ngapain aja?"
"Gampang kok, tugas lu cuman mengamati siaran televisi. karena televisi nasional udah sama gue, maka tugas lu mengamati pertelevisian lokal"
"ok..."
"Nah waktunya tiap hari, selama 24 jam"
"Gila...kerja rodi dunk! terus gajinya berapa tuh?"
"Gajinya ya...nunggu ada yg mo gaji! namanya juga pengamat" kata gue enteng.
"Sialan Gillabong!"
"Maksud lu?"
"Gila lu bong!"
"hehehe emang enak dikerjain!"
Diposting oleh cafelosophy di 14.15 | 0 komentar  
Langganan: Komentar (Atom)