Senin, 13 April 2009

Monster masa lalu (part I)

jam 03.00 WIB
"How will we win, when the fool can be king" suara Matthew Bellamy berkumandang keras dari handphone, aku yang baru memejamkan mata, langsung mencari sumber suara. Dalam kamar yang gelap, terlihat hp ku berputar sambil mempedarkan cahaya diantara beberapa buku, gelas, dan lampu baca diatas meja samping tempat tidur. Segera Ku ambil, terlihat duabelas digit angka berbaris rapi di LCD menunggu keputusanku. Terima atau tolak. Kepala atau ekor. Sebuah keputusan yang mungkin akan merubah hidupku ke depan.
"Halo...." sapaku malas-malasan pada pengganggu yang tak sepantasnya kuangkat telphonnya.
"Sam. Ayas Toni, eyip rabake ker?"
Bagai tersetrum listrik 5000 volt, badanku tergetar begitu mendengar suara Toni. Suara itu, nama itu, bahasa itu, logat itu adalah monster yang sudah terkubur dalam tumpukan masa lalu Tapi, malam ini, monster itu seakan datang lagi dari kegelapan malam dan menyergapku. Siapakah yang berhianat? malamkah, bulankah, bintangkah, atau keadaan yang memang tak sanggup lagi menyimpan rahasia? pikirku dalam hati.
"Sam..."
"Oh iya Ton, pa kabar lu?"
"Walah, sekarang sudah jadi orang jakarta tenan ki Sam Abel" kata Tony, "ngomongnya aja sekarang udah gua lo. kayak artis sinetron"
"Ha ha ha, bisa aja lu Ton" harus ku akui aku sedikit terhibur dengan gaya Toni yang lugu, hingga rasa ngantukku-pun hilang. "Lu lagi dimana Ton? kok berisik banget?"
"Ayas lagi di kereta api Sam, mau ke jakarta" jawab Toni.
"Ow gitu ya! Ada perlu apa Ton? Tumben lu ke Jakarta ngasih tau gue"
"Susah Sam, buat ceritanya. Besok aja kita ketemuan di stasiun gambir, sekitar jam 9"
"Ok deh"
"Yo wis Sam, kita ngomongnya besok aja. Sekarang Sam Abel tidur aja lagi. Ga enak ayas sudah ganggu Sam Abel, telphon jam segini" kata Toni.
"Suwun ya Ton, udah mau telphon aku lagi" sahutku
"Iya Sam, ayas juga minta maaf kalo selama ini ga pernah kasih kabar"
"Ga usah dipikirin Ton. Yo wis, ati-ati neng jalan Ton, begitu nyampe Gambir sms aku yo..."
"Siap Sam"
"trek!!" obrolanku sama Toni pun selesai.
Ku coba memejamkan mataku kembali, namun terasa susah. Beberapa bayangan dari masa lalu ku di Malang terus berseliweran di pikiranku. Semakin aku berusaha untuk menyingkirkannya, semakin kuat ia mendekapku.
"Arrrrrrrrrgh"




(bersambung)

Diposting oleh cafelosophy di 19.25 |  

0 komentar:

Langganan: Posting Komentar (Atom)