Selasa, 26 Mei 2009

Siswa SMA Berkeliaran di Malaysia (benarkah?)

Hari ini gue baru aja ditelphone sama temen SMA, yang sekarang udah kerja di Malaysia. Omongan kita sih awalnya ga jauh-jauh dari gosip sesama mantan warga kelas 3 IPS 1. Ternyata setelah 7 tahun berpisah, banyak temen gue yg udah pada married dan punya anak. Ada yang jualan bakso di Kalimantan, gue berharap sih yang beli manusia bukan bekantan. Ada juga temen gue yang suka pindah-pindah kerja keliling Indonesia, namanya Naim, tapi sekarang temen-temen SMA gue lebih suka manggil doi, Marco Polo. Karena hobinya pindah dari satu pulau ke pulau lain sambil naik kapal laut (angkat layarnya, kapten...!). Mungkin Marco Polo Jr ini masih belum percaya sama omongan Pak Dul Wakid (guru IPS kami dulu) kalo dunia itu bulet. Semangat Im! sapa tau abis keliling Indonesia nilai Geographi lu 90.
Kembali lagi ke Malaysia neh. Gue baru aja dapet cerita seru dari temen gue. Ternyata di Malaysia itu banyak TKI yang berkelakuan menyimpang. Kata temen gue sih kelakuan mereka ini termasuk golongan Nasionalis Narsis. Saran temen gue sih, kalo suatu saat lu berpusing-pusing (keliling) di Malaysia, terus ngeliat bapak-bapak ato ibu-ibu make baju SMA di Mall ato jalanan, jangan kaget, apalagi nanya sama mereka skulah dimana (karena itu hal yang memalukan). Mereka itu bukan siswa SMA yang lagi bolos.
Asal lu tau aja, seragam SMA sekarang jadi trend mode TKI masa kini. Ga cuman bernostalgia mereka juga bergaya dengan seragam putih abu-abunya. Emang aneh sih, tapi mungkin itu satu-satunya cara mereka buat mengenang masa lalunya. Padahal mereka kan ga semuanya skolah dan lulus SMA, terus seragam itu dapet dari mana donk? bisa jadi bikin sendiri, ato minta kiriman sama keluarga yg di Indonesia. Ck ck ck...gaya emang ga ada matinya
Lebih gilanya lagi, ternyata pakaian SMA yang lengkap dengan bet OSIS-nya itu ga cuman dipake saat jalan-jalan plus nongkrong, tapi dipake juga kalo lagi upacara kemerdekaan 17 Agustus di Kedutaan besar RI di Malaysia. Auw auw auw Asli, gue ga tega ngebayangin segerombolan bapak-bapak sama ibu-ibu berseragam SMA upacara. Dunia emang udah gila...
Diposting oleh cafelosophy di 20.43 | 1 komentar  

Benarkah Facebook Haram?

Duhai Tuhanku... aku tak pantas menjadi penghuni surga
Tetapi diriku juga tak kuat terhadap siksa neraka

Tuhan... Ku akui, aku GOLPUT (yang menurut fatwa MUI itu haram). Selain umatnya Nabi Muhammad SAW, aku juga pengguna setia FACEBOOK (lagi2 menurut sebagian Ulama di Jawa Timur itu Haram). Belum lagi kelakuan-kelakuan ku yang lain. Tentulah dosa hambaMu ini menggunung bak Semeru. Sedangkan kebaikanku, tak sebesar biji Sawi. Pantaskah aku masih berharap surga?

(Munajatku malam ini)

Mungkin pertanyaan gue ini juga mampir di otak teman2 pengguna facebook, Situs pertemanan yang lagi booming ini, tiba2 dinyatakan haram sama sebagian Ulama di Kediri, Jatim. Kayaknya gue perlu ingetin sama teman-teman pengguna facebook. Jangan nyari dalil di Al Quran atau Hadits nabi, karena gue bisa pastiin hukum facebook haram disana ga bakalan ada. keluarnya fatwa haram terhadap facebook adalah hasil musyawarah sebagian ulama di Kediri dan tidak mewakili semua ulama di Indonesia.
Seperti yang gue liat di Tipi, salah satu Kyai itu memberi penjelasan (seingat gue) sebagai berikut: "Facebook dinyatakan haram karena, facebook dijadikan media untuk berhubungan antara cewek dan cowok (yang bukan Muhrim) yang bisa menimbulkan sahwat". Jadi menurut hemat pemikiran gue, yang haram itu bukan facebook, tapi pengguna facebook yang menjadikan situs ini untuk ajang mencari pacar atau mencari pasangan kencan. Perlu diingat juga, sebelum facebook booming, sudah ada friendster, situs yang serupa sama facebook.
Sebenernya bukan hanya situs macam Facebook atau friendster yang bisa dijadikan media untuk berhubungan antara cewek dan cowok. Situs penyedia chating macam Yahoo messenger sama MIRC malah lebih parah!. Di dua situs terakhir ini, sebagian ID chatternya malah lebih parah, porno abiss (walaupun ga semuanya juga sih), tapi kalo dibandingin sama facebook, facebook is better than MIRC and Yahoo messenger. Selain itu, teknologi Telephon dan sms juga mempunyai efek yang sama. Lalu kenapa cuman facebook yang diharamin?
Gue jadi kuwatir, jangan-jangan keputusan ini hanya respon membabi buta terhadap perkembangan facebook. Tanpa mempelajari lebih mendalam terhadap facebook. Kalo kekhwatiran gue bener, alangkah naifnya keputusan itu!. Apalagi kemudian salah satu ketua PBNU K. H. Tolhah Hasan menyatakan, "Facebok tak harus disikapi secara halal atau haram" tentu hal ini sebagai pengingat (tamparan mungkin lebih tepatnya) bagi mereka yang sudah mengeluarkan fatwa tersebut.
Mau bagaimanapun, fatwa sudah keluar. Pro dan Kontra mengikutinya. resistensi dari pengguna facebook juga telah terjadi dengan munculnya group penentang fatwa haram terhadap facebook. Kini gue cuman berharap, kedewasaan para Ulama dan pengguna facebook untuk berdialog. Sehingga ada proses dialektika diantara kita semua. Bukan saling claim kebenaran, karena kebenaran hanyalah milik Tuhan semesta alam.
Waallahu a'lam Bishowab...
Diposting oleh cafelosophy di 14.10 | 2 komentar  
Minggu, 24 Mei 2009

Preman di Kampung Ustadz

Hari Rabu kemaren, gue dimintain tolong sama temen buat ngisi materi, teknik persidangan pada acara LDK (latihan dasar kepemimpinan) di salah satu SMA di daerah Bogor. Sejak awal gue udah males2an, abisna gue lagi kejar setoran buat skripsi. Tapi berhubung temen gue itu udah mentok dan ga nemuin narasumber (pinter kayak gue), akhirnya gue-pun mengiyakan (itung2 nolong temen yg lagi kesusahan). Lagian selama ini gue udah sering banget ngisi materi yang sama di pelatihan2 organisasi kampus gue. Jadi gue udah hapal betul apa yg perlu disampein.
Seperti yg kami rencanain, gw dijemput sama temen gue itu di Parung. Selama perjalanan ke tempat tujuan, temen gue ini ngasih tau gue, kalo ngomong di acara nanti jangan terlalu vulgar (artinya gue ga boleh ngomong asal jeplak). "Ok" jawabku. Gue 100% paham ini acara anak SMA, jadi ada beberapa hal yang mungkin ga pas buat diomongin. Sampai saat itu, gue masih berpikiran kalo SMA tempat ngajar temen gue ini, SMA normal. Seperti kebanyakan SMA yang bernaung di yayasan.
Tapi, alamak... ternyata SMA ini ada di Pesantren. (Gila gue nervous banget) Pas tau kalo gue nyampein materi teknik persidangan di Masjid bukan di aula seperti bayangan gue. Layaknya seorang Kiai, gue duduk di atas kursi didepan 60 santri yang hanya duduk lesehan di lantai. Dalam ati gue terus2an ngumpat! kalo tau gini, gue ga bakalan pake kaos oblong, celana jeans, plus gelang di tangan.
Gue sampe ga berani ngebayangin apa yg dipikirin sama santri2 begitu ngeliat penampilan gue, Kayak preman di kampung ustadz. Gue nyampeiin materi dengan cara teriak2 di depan mereka sambil ngacung2in tangan khas aktivis kampus yang lagi demo. Dan mereka cuman ngangguk2 kayak lagi mabok sambal. Masih untung gue bisa nyeleseiin materi gue selama 2 jam, tanpa lemparan sandal sang Kiai. Makanya begitu selesai gue-pun langsung kaburrrrr
Diposting oleh cafelosophy di 16.29 | 1 komentar  
Senin, 18 Mei 2009

I GOT AWARDS



Wow... I'm speechless. Kaget, merinding, terus ujung2nya meriang. Pas tau dapet award dari Charlettaz hari ini. Setenar itukah diriku sampe berhak menerima dua awards sekaligus? Ato jangan-janga muka dan suaraku ini udah mirip sama Afgan (huuuu ngarep!) sehingga berhak dapet awards?. Walaupun nominee-nya ga disebutin sapa aja, gue yakin Charlettaz ga bakal nyesel udah milih gue sebagai penerimanya. (sombhong...) Karena kalo dibandingin sama Sumanto dan Sunami, cuman gue yang ga suka cari korban. (hubungannya?)
berhubung Awards ini buat di Share, awards ini juga gue kasih ke:
Bembeng
Dhofier
Donlenon
Ieday
Imam
Awards harus diambil paling lambat 2x24 jam semenjak pengumuman ini di posting. Bila terlambat, jangan salahin gue kalo diambil sama yang lain.
Diposting oleh cafelosophy di 12.30 | 1 komentar  
Sabtu, 16 Mei 2009

Toni sang Mesiah

Setelah menikmati kopi, Toni mengeluarkan sebungkus kertas kecil, kelihatannya seperti buku agenda mungil dengan cover warna kuning, bergambar seorang koboy dari saku jaket kulitnya. Selanjutnya, Toni membuka backpack yang ditaruh di kursi kosong, sebelah dia duduk. Diambilnya kantong berbahan daun pandan hutan yang ternyata berisi rejengan tembakau. Dia ambil rejengantembakau dari dalam kantong pandan, terus dengan cekatan, jari-jari Toni melinting tembakau itu dalam kertas kecil. Sret… sret… dia jilat ujung kertas paling luar dari gulungan itu, kemudian ia rekatkan. Maka jadilah sebatang rokok kretek.
“Ini Sam. Best ever cigarette in the world.” kata Toni menyerahkan rokok buatannya itu pada ku. “Tembakau ini asli dari Madura, khusus ayas beli buat Sam”

“You are still Toni, whom I know.” kataku pada Toni sambil menerima pemberiannya.

“Everybody’s changing but I don’t feel same”

“Hahaha itu kan lirik lagunya Kane” kataku, “sejak kapan lu suka jadi plagiat?”

“Bukan plagiat, tapi mengutip” kata Toni beralasan sambil menyalakan korek gasnya dan mempersilahkan aku membakar rokok pemberiannya.

Huffff…ehhh… aku mulai menikmati rokok kretek buatan Toni. “Wow… lu emang paling ahli bikin rokok Ton” puji ku.

“Itulah gunanya ikut kajian MAKAR hahaha”

Mendengar kata makar, ingatanku kini melayang ke masa lalu. Sembilan tahun silam, aku dan Toni adalah salah satu anggota lembaga kajian yang bernama Makar di kota Malang. Lembaga kajian ini didirikan oleh Fariz, seniorku di kampus. Awalnya aku sama sekali tak tertarik untuk ikut, saat Sam Fariz menawariku untuk bergabung ke dalam Makar.

“Ga lah, Sam. Aktif di organisasi bagi gue terlalu beresiko” kataku saat itu.

“Emang kenapa?” tanya Sam Fariz.

“Gue kan baru semester tiga”

“Terus?”

“Ya…gue takut ga bisa konsen kuliah aja. Belum lagi kalo di curigai sama silup. Bisa-bisa diciduk gue” jawabku beralasan. Saat itu konsekuensi menjadi aktivis sangatlah berat. Aktivis harus siap menghadapi 3B, Bui, Buang, atau Bunuh. Aku merasa tidak akan pernah siap menghadapi itu semua. Dalam hidup, aku hanya ingin lulus kuliah, kerja, terus bisa membina rumah tangga yang bahagia. Bukankah kebanykan manusia menginginkan itu?.

“Idealismu itu menyakitkan Bel, tapi manusia tanpa idealisme sama saja dengan binatang” kata Sam Fariz mengutip fatwa Mahatma Gandhi. Aku terdiam, merasa bersalah dengan diriku sendiri yang sudah egois. Namun aku tak punya pilihan yang lebih baik. Take it or leave it. Itulah pilihan hidup yang tak bisa ku pungkiri.

“Ya udah ga usah dibuat pusing. Tapi kalo umak mo gabung, ayas tunggu di sini besok jam 3 sore” ujar Sam Fariz seakan tahu apa yang mengganggu pikiranku saat itu.

“Ok Sam, sorry banget nih”

“Ga apa-apa, ayas ngerti kok” kata Sam Fariz sambil mengedipkan mata kirinya terus menyalamiku dan pergi meninggalkanku sendirian di bangku taman kampus.

Sampai sekarang aku masih belum percaya, kenapa saat itu aku bisa memutuskan untuk bergabung dengan Sam Fariz di Makar. Padahal awalnya aku kukuh tak mau bergabung. Mungkinkah saat itu aku mendapat pencerahan? Atau merasa tertekan dengan omongan Sam Fariz? Entahlah. Faktanya, aku dengan delapan orang lainnya akhirnya menjadi anggota kajian Makar dan menghabiskan waktu bersama layaknya sebuah keluarga. Hingga tiba satu malam, ketika Toni mengetuk pintu kamarku dan menyuruhku secepatnya meningalkan Malang, aku tak pernah menyesali keputusanku untuk bergabung dengan Makar.

Malam itu juga aku kembali ke Jakarta meninggalkan semuanya. Termasuk studiku yang sampai saat ini tidak pernah ku selesaikan.

Ada apa Sam? Kok jadi ngelamun gitu?” Tanya Toni.

“Ah ga’…” kilahku, “gue cuman ke-inget masa-masa di Malang

“Ow…”

“Oh iya Ton, lu dapet nomer hp gue dari sapa sih?” Tanya ku penasaran terus menyeruput kopi yang tak panas lagi.

Ada lah… saat ini ayas belum bisa kasih tau” jawab Toni yang tak mampu menghilangkan rasa penasaranku.

“Terus kabar anggota Makar yang lain gimana?”

“Jawaban itu yang ayas cari disini Sam” jawab Toni. Aku makin bingung dengan jawaban Toni. Apa yang sebenarnya dia cari di Jakarta.

Diposting oleh cafelosophy di 10.18 | 0 komentar  
Rabu, 13 Mei 2009

GOLKAR dan Namaku

Aku dilahirkan di sebuah desa kecil sebelah selatan kabupaten Lamongan. Desaku terletak di samping hutan lindung. Antara desa dan hutan hanya dipisahkan jalan aspal yang menghubungkan kota Mojokerto dan Babat. Jalan ini adalah tempat dimana anak-anak desa biasa melakukan vandalism yang mengarah pada pemberontakan (tentunya untuk ukuran saat itu).
Lahir ditahun 80an dan menghabiskan masa kanak-kanak ditahun 90an, membuat anak seorang PNS golongan 1 A ini, kehilangan nama aslinya. Selain mencintai Nabi besar Muhammad SAW, aku juga dipaksa cinta sama H.M. Soeharto dan partainya GOLKAR. Sedangkan bagi anak petani, perangkat desa akan dengan suka rela menggantikan peran orang tua mereka untuk membimbingnya mencintai GOLKAR. Sayangnya, hal itu tidak pernah berhasil pada teman-temanku. Mungkin ungkapan yang cocok buatku dan teman-temanku sewaktu SD adalah, anak domba yang tersesat dalam orde baru.

Berbekal kapur tulis sisa dari belajar di sekolah dasar yang gedungnya mau roboh, kami biasa menggambar lambang PPP (bintang) dan PDI (kepala banteng) di punggung jalan raya dengan sembunyi-sembunyi. Karena kenakalan kita (waktu itu) adalah hal yang tabu dan mengandung resiko buat dilakukan. Kalau ketahuan BABINSA orang tua kita bakal dipanggil KORAMIL dan pulang babak belur. Makanya tidak semua anak desa berani melakukannya. Hanya anak pemberani dan terhormat yang siap melakukan vandalism macam itu. Dari lima cowok yang seumuran dengan ku waktu itu, hanya ada tiga yang berani melakukannya. Salah satunya adalah aku.

Keberanianku membangkang secara diam-diam, sekaligus terlihat penurut didepan guru dan orang tua, membuatku punya tempat terhormat dalam persaudaraan pendawa lima. Persaudaraan yang pernah aku dirikan dengan temen-temen sekelas sewaktu SD dulu. Kebetulan di kelasku dulu ada lima cowok, sehingga kita berlima suka mengidentikkan diri dengan pendawa. Dengan aku sebagai pemimpinnya.

Menurut Bapak, sewaktu aku di dalam kandungan. Bapak ingin sekali memberi nama aku Muhammad Ka’bah. Dengan harapan suatu saat nanti aku bisa menjadi panutan (kiblat) bagi orang disekitarku (minimal hal ini pernah terjadi saat aku SD). Namun harapan tinggal-lah harapan. Bapak ternyata belum siap untuk diinterogasi sama koramil dan penghasilannya untuk menghidupi 8 anaknya hilang gara-gara nama salah satu anaknya yang kontroversial. Perlu diketahui, Ka’bah di tahun 80an adalah lambang PPP. Sedangkan bapak yang notabene PNS adalah umat KORPRI, yang harus menganut GOLKAR dalam hidupnya. Pilihan saat itu hanya dua bagi bapak yang pegawai rendahan. Pilih GOLKAR atau masuk neraka. Alhasil namaku-pun harus dimodifikasi ulang biar tidak terjadi fitnah. Bukan Muhammad Ka’bah seperti impian bapak, tapi Muhammad El Ka’bati. Walaupun sudah dimodifikasi, ternyata bapak tetap tak mau ambil resiko. Untuk menyembunyikan nama yang bagus itu, aku harus rela dipanggil Abonk.

Zaman telah berubah, orang-orang di dalamnya pun ikut berubah. Tapi tidak dengan namaku. Aku terus dipanggil Abonk oleh semua orang yang ku kenal. Dan aku bangga dengan itu semua

In my life GOLKAR is forgiven but not forgotten

Diposting oleh cafelosophy di 10.24 | 1 komentar  

Menara Babel

Aku berdiri bimbang di ujung tangga jalur 1 stasiun Gambir. Deretan anak tangga berwarna hijau muda didepanku terlihat seperti punggung naga. Tangga itu telah menelan keberanianku. Beberapa kali aku menghela nafas, namun tak membuat nyaliku datang. Kaki ku terasa lemas dan gemetar. Hingga aku hanya bisa terpaku sambil berpegangan pada besi panjang pembatas tangga yang menyalurkan rasa dingin ke telapak tangan. Beberapa penumpang KA Kamandanu terlihat sudah mulai menuruni anak tangga. Sepintas mereka memeperhatikan muka ku, terus berlalu begitu saja.
Drrrrrt drrrrrt… hp dalam saku celanaku terasa bergetar. “Pasti Toni” pikirku sambil mengambil hp.

“Sam ayas sudah sampe Gambir. Sam Abel dimana?”

“Eh Ton, gue di lantai dua. Lu turun aja, gue tunggu pas didepan tangga” jawab ku.

“Ok deh”

Tak lama kemudian ku lihat cowok dengan jaket kulit berwarna hitam dan celana jeans belel menuruni anak tangga. Di pundaknya terdapat backpack yang bergelayut manja. Rambutnya sebahu dan bergelombang, gayanya mengingatkanku pada personel F4. Senyumnya langsung mengembang begitu melihatku.

“Sam…” teriak Toni terus memelukku. Aku terdiam, tak mampu menemukan kata-kata penyambutan untuk seorang teman yang sudah lama berpisah. Aku pasrah dalam pelukan Toni, ku rasakan hangat dekapannya. Rasa tulus yang ku temukan kembali, seperti saat dia memelukku untuk terakhir kalinya di terminal Arjosari, Malang. Tujuh tahun silam.

“Kenapa Sam. Kok diam?” Tanya Toni begitu menyadari keganjilanku sambil melepaskan pelukannya.

“Gue takut dibilang homo sama orang yang ngeliat kita pelukan Ton”

“Ha ha ha” Toni tertawa lepas. Tak terbesit sedikitpun rasa canggung pada dirinya. Dia masih utuh seperti yang dulu. Aku jadi malu, karena pagi ini, Toni telah mengajariku bagaimana seharusnya seorang pria menghadapi kenyataan dan berperilaku terhadap temannya.

“Wah pagi-pagi gini, kayaknya asik nih Sam kalo kita ngopi”

“Ternyata kelakuan lu ga berubah ya Ton” kata ku

“Tapi traktir yo Sam…” rengek Toni sambil merangkul pundakku

“Iya… asal ga lebih dari dua cangkir aja” ujarku mengajukan syarat

“Ha ha ha. Beres”

“Mo ngopi dimana nih Ton?” tanyaku ketika kita berdua berjalan mengelilingi ruang tunggu bundar di lantai dua stasiun Gambir.

“Ayas pengen ngopi sambil ngeliat MONAS Sam” jawab Toni polos.

“Ya udah, kalo gitu kita ngopi disitu aja” kataku menunjuk café disebelah kiri tangga ke lantai dasar. Café ini ada di sisi timur lantai dua stasiun Gambir. Dari balik kacanya, pengunjung bisa langsung menikmati pemandangan monas dan tamannya. Sedangkan di sisi barat tangga keluar, pemandangan yang terlihat adalah gereja Immanuel dengan kubahnya yang megah di seberang jalan.

“Dua original coffee mbak ya..” kataku pada kasir sekaligus merangkap pelayan di café ini.

“Baik bapak, silahkan tunggu lima menit” ujar kasir.

Aku dan Toni segera memilih tempat duduk. Biar bisa leluasa memandangi monas, aku sengaja memilih meja nomor 6. Meja yang berada tepat di tengah deretan meja yang tersedia di café.

Café ini bukanlah café besar. Bahkan tempat ini sebenarnya adalah jalan dari ruang tunggu bundar, menuju restoran siap saji yang berada di ujung selatan. Namun oleh pengelola stasiun, jalan ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian timur yang dekat jendela dijadikan café yang mempunyai sebelas meja stainless dengan empat kursi dengan bahan yang sama di masing-masing meja, yang ditata berderet dari selatan ke utara. Sedangkan di sisi barat, masih berfungsi sebagai mana mestinya, yakni jalan para penumpang dari ruang tunggu ke restoren siap saji. Sehingga banyak orang hilir mudik di samping meja tempat aku dan Toni ngopi.

Aku dan Toni duduk berhadapan. Dia memilih kursi yang menghadap ke selatan, karena dengan sedikit mengarahkan pandangannya ke kiri, dia bisa leluasa melihat monas. Hal yang sulit untuk ku lakukan dari tempatku duduk. Tentu saja alasan Toni, naïf bagiku. Menikmati monumen yang menjulang tinggi nan kaku di pagi hari yang indah.

“Menara babel…” kata Toni pelan dengan senyum sinis.

Dari semenjak kita duduk, mata Toni terus memandangi monas. Walaupun pandangannya harus beradu dengan sinar matahari pagi, Toni tak sedikitpun merasa silau. Dia benar-benar menikmati pemandangan menara babelnya itu. Beberapa kali ku lihat dia senyum-senyum sendiri. Entahlah apa yang ada dipikirannya, aku tak tahu. Yang ku tahu pasti, Toni sedang melihat monas, bukan menara babel yang didirikan sama raja Nimrod. Seperti yang dia ucapkan barusan. Tapi aku hanya diam, memberikan Toni waktu untuk menikmati monas. Walaupun aku harus menanggung gangguan beberapa pertanyaan dalam kepala. “Apa yang membuat Toni datang ke Jakarta?” “Kenapa dia menyebut monas dengan menara babel?” “Apa yang disembunyikan Toni dari ku?” Tetap saja aku tak sampai hati mengganggunya dengan pertanyan-pertanyaanku. Aku takut Toni tersinggung. Apalagi ini adalah pertemuan pertamaku dengannya setelah tujuh tahun.

Mungkin bagi beberapa orang yang duduk dibelakangku merasa janggal. Melihat dua laki-laki duduk di café tanpa sepatah kata yang terucap. Untungnya, tak seberapa lama pelayan datang mengantarkan pesanan. Sehingga aku ada alasan untuk mengganggu Toni.

“Silahkan bapak” kata pelayan ramah sambil menaruh pesanan di meja.

“Terima kasih ya mbak..”

“Sama-sama” ucap pelayan itu terus berlalu dari hadapanku.

“Ton, kopinya udah dateng nih. Mo ngopi ga?” tanyaku pada Toni.

“Oh iya” jawab Toni kaget. Mungkin dia baru sadar, kalau ada aku di depannya sejak tadi.


(Bersambung)
Diposting oleh cafelosophy di 10.13 | 0 komentar  
Senin, 04 Mei 2009

I'm Belongs Manchester United


ini poto diambil sebelum pertandingan
TIMNAS meladeni Australy
yang berakhir imbang 0-0

Meskipun gue punya jersey Liverpool bukan berarti gue Liverpooldian. Gue 100% belongs Manchester United. (nah lho aneh kan?) Jersey ini gue beli di Bandung (tempat dan harganya gue udah lupa). Sampe sekarang gue masih suka mikirin kecelakaan ini. Pendukung setia Manchester United yang dengan tanpa rasa bersalah udah beli jersey musuh bebuyutannya.
Awalnya sih gue pengen banget beli jersey MU, tapi sayang adanya cuman jersey yang buat laga tandang berwarna putih. padahal gue ngebet banget punya kaos berwarna merah. Alhasil sambil mejamin mata dan baca al fatiha buat Sir Alex Ferguson, gue comot tuh jersey liverpool. (maafkan cucumu ini ya engkong Fergie...). Gue pikir kejadian itu bakalan jadi kelakuan menyimpang terakhir gue sebagai fans MU. Ternyata salah! lagi-lagi gue ngulangin hal yang sama. Kemaren pas gue lagi beli soft drink di mini market, gue liat korek gas merk TOKAI dengan logo_logo team premier league di meja kasir. Spontan gue nyari2 korek gas dengan logo MU. tapi nasib gue emang ga pernah bagus, kata kasirnya korek gas MU udah habis!!! (sialan) karena udah tertarik. akhirnya gue beli korek gas dengan logo Liverpool aja (Why liverpool?) gue juga kagak ngarti.
Tapi santai, sebagai pendukung setia MU, bukan berarti gue ga punya jersey kesebelasan yang dihuni Christiano Ronaldo (CR7) ini. Gue punya jersey istimewa, karena dibeli langsung di Old Trafford sama abang gue yang waktu itu sempat main2 ke England. So gue pikir dosa gue masih bisa diampuni hehehe
Ngomongin MU, pasti lu semua pada tahu kalo nanti bulan Juli mereka bakal ngadain tour di Indonesia. Penjualan tiketnya akan dimulai pada bulan Juni (harap bersabar, abis EO-nya lebih mentingin para peng-iklan yang belum tentu suka bola, daripada Fans macem gue), di pintu 1 Gelora Bung Karno. Jadi kalo lu mo nonton nih pertandingan, buruan siapin duit karena harga tiketnya lumayan mahal mulai dari 100 ribu sampe 3,5 juta. (saran gue: Pilihlah kelas sesuai kemampuan dompet). Perlu diinget tiket yang tersedia cuman 65.000 lembar (padahal kapasitas GBK adalah 85.000), jadi lu mesti usaha ngedapetin nih tiket jauh-jauh hari. Karena pihak panitia yakin kalo tiket bakalan habis sebelum hari H. Tuh kan... dari pada lu beli tiket di calo yg harganya bisa naik 300%, mending juga lu antri dah tuh entar bulan Juni bareng gue. Jadi uang sisanya bisa buat beli bacang sama tahu buat digado saat nonton MU vs Super liga selection nanti. Ok bro...
Gue tunggu di gelora Bung Karno!
Diposting oleh cafelosophy di 22.37 | 0 komentar  

May Your Band isn't SUCK!!!!


“Tuhan selamatkan aku dari fitnah lagu band ecek-ecek..”

Godaan untuk menyaksikan performance band dan acara musik dalam negeri yang ecek-ecek memang besar. Cukup bangun pagi, nyalakan TV apapun nama stasiunnya, maka telinga anda akan dijejali lagu mendayu-dayu, bait cinta cengeng ditinggal pergi kekasih, musikalitas yang asal-asalan, presenter yang asal teriak-teriak melecehkan temannya yang tidak normal (saya kira ini lebih sopan daripada saya sebut menyimpang) dan omong kosong tentang life style. So I always say thanks God I never awake up in the morning.
Saat ini perkembangan musik dalam negeri secara kuantitas dan industri memang menggembirakan. Hampir tiap minggu muncul band baru. Walaupun pembajakan merajalela dan merampok penghasilan musikus (terutama pihak lebel), namun itu tak menciutkan nyali label untuk mengorbitkan band-band baru, karena mereka diselamatkan oleh operator seluler lewat RBT (ring back tones). Hal ini (munculnya banyak band) tentu saja disambut secara meriah oleh stasiun TV. Atas nama pasar dan rating, TV-pun rame-rame bikin acara musik. Tidak lupa mereka juga mengungkapkan dalil, masyarakat butuh hiburan. Apalagi kehidupan sebagian masyarakat Indonesia yang notabene pemirsa TV, dalam keadaan kurang beruntung (dibelenggu kemiskinan). Sehingga mereka butuh “candu” yang bisa menghilangkan atau minimal untuk sejenak melupakan penderitaan tersebut.
Penikmat musik (pemirsa TV) memang butuh hiburan, tapi hal ini jangan dijadikan alasan oleh label, TV dan tentu saja musisi untuk meniadakan kualitas musik atau program musik di TV.
Menurut saya, pada dasarnya bisnis musik adalah bisnis jasa yang mulia. Dimana para musisi yang kreatif, punya intuisi, imajinasi, dan pandangan hidup yang lebih baik dibandingkan masyarakat pada umumnya, menuangkan ide dan karya tertinggi mereka dalam bentuk musik dan lagu, untuk dinikmati dan mengantarkan penikmatnya pada “ekstase” atau bila perlu pada pencerahan. Sebagai timbal baliknya, masyarakat akan memberikan pada mereka sebuah “nilai”. Namun hal itu tidak saya temukan pada perkembangan musik di Indonesia saat ini (semoga saya salah).
Bisnis musik sekarang tak ubahnya dagang krupuk. Beraneka rupa dan bentuk kemasan tapi kualitas dan isinya sama “krupuk” dengan bahan yang itu-itu saja.
Diposting oleh cafelosophy di 21.23 | 0 komentar  
Minggu, 03 Mei 2009

Pembunuh Organik

Setelah lama ga nulis kelakuan "gila" temen2 kosan, kayaknya ada yang kurang dari blog gue. Makana, sekarang gue mo nulis lagi tentang gue + temen2 kosan. Perlu diinget, kita bukan sekelompok kecil manusia yang pshyco, sarap, edan ato apalah. Kita juga ga sesinting aktor di pilem komedi dalam negeri yang punya kelakuan menyimpang, kayak punya hobi ternak kecoak, bisa ngobrol sama anjing, ato malah makan kecoak mentah. Meskipun kita suka bertingkah konyol, itu ga berarti kita gila. Inget pepatah yang bilang "antara jenius dan gila itu bedanya tipis". Jadi selain lu pade bisa pitnah kita gila, lu juga ga haram kok kalo bilang kita jenius. (hehehe)
Ngomong-ngomong jenius. Manusia paling jenius di kosan adalah Ieday. Kalo lu tanya kenapa? gue jawab: karena Ieday suka baca koran dan buku. Selain suka baca berita olahraga dan politik, doi juga suka baca artikel tentang kesehatan. Makanya jangan heran doi sangat konsen sama isu2 yang ada kaitannya sama kesehatan. Terutama tentang pemakaian pestisida. (hmm...)
Gue masih inget waktu Ieday ngasih petuah saat gue mo gabung sama doi di kosan yg sekarang. "Perarturan pertama, anggota kosan dilarang keras memakai obat nyamuk jenis apapun" kata Ieday tegas di depan gue, monhox dan edot.
"Emang kenapa Day?" tanya gue.
"Karena obat nyamuk mengandung racun"
"Nah loh, kenapa obat nyamuk yang mengandung, kita yang repot?" tanya Edot.
"Bener tuh Day, kalo obat nyamuk mengandung racun, berarti yang mestinya bertanggung jawab ya... Racun!" tambah gue, "kan racun yang bikin obat nyamuk hamil."
"Setuju gue Broth" sahut Monhox.
"Dasar maneh tiluan Bloon"
"Maksudnya?"
"Maksudnya... obat nyamuk itu ada racunnya, kalo lu pade make obat nyamuk, ga cuman nyamuk yang bisa mampus, lu pade juga bisa koit" jelas Ieday.
"Astaghfirullah hal adzim..."
"Terus gimana donk solusinya biar kita ga dibuat prasmanan sama nyamuk2 nakal?" tanya gue ke Ieday.
"Kita bakalan pake cara alamiah, tradisionil, efektif, sekaligus sehat. Cara ini udah turun temurun mulai dari nabi Adam" jawab Ieday.
"Apaan tuh Broth?"kali ini giliran Monhox yang nanya.
"Tepok aja"
"Manual donk!"

bersambung dulu ya gue mo belajar dulu (jiaaaaaaaaaaaaaaaaah)
Diposting oleh cafelosophy di 20.25 | 0 komentar  
Jumat, 01 Mei 2009

Sejarah Flu Babi

Sejarah ini gue tulis menurut pengakuan salah satu babi, yang selanjutnya kita sebut oknum babi. Atas permintaan oknum babi tersebut, namanya ga ingin disebutin. Supaya para pembaca ga penasaran, gue akan coba kasih inisialnya aja, setujukan?. Depannya BA, belakangnya BI. Umur 3 tahun. Siswa sekolah menengah kejuruan BABI ngempot.
Untuk wawancara dengan doi, gue mesti sabar nungguin nih babi di kantin sekolahnya. Karena doi lagi ikut UN (ujian ngempot). dan begitu selesai UN oknum babi tersebut segera nemuin gue. Dan berikut ini, kira-kira hasil wawancara gue sama tuh oknum babi.
Menurut oknum babi tersebut, Setelah booming dengan pilem babi ngepet, ternyata warga babi belum merasa puas. Eksistensi mereka di dunia gosip dan berita masih kalah sama artis ibu kota yang rame-rame cerai. Alhasil dengan sedikit bujuk rayu, ato malah dengan sedikit ciuman dan pelukan, Abang Raditya Dika pun takluk dan rela menulis cerpen yang didedikasikan buat warga Babi di seluruh dunia. Yang berjudul, Babi ngesot.
Namanya juga babi, mo digimanain juga tetep aja babi. Hewan yang dikutuk oleh umat manusia seantero jagad raya. (Kasihan...) Apa gerangan salah Babi? Sampe anak-anak mereka kalo jalan pun menunduk karena malu dibilang bokap nyokanya babi. (Tragis...)
Merasa tidak ada kebanggan menjadi babi, umat babi lagi-lagi berusaha menghilangkan identitas ke-babiannya. (katanya sih, mumpung pemerintah belum ngeluarin kartu tanda babi) Mereka mencampur dagingnya pada dendeng dan abon sapi. Bukannya dipanggil dendeng dan abon sapi, produk ini malah dibilang dendeng dan abon babi, padahal selain berbahan daging babi, produk ini kan terang2an nyantumin berbahan daging sapi. Kenapa ga di sebut aja dendeng dan abon sabi (alias sapi+babi). Biar lebih adil dan berperi kehewanan gitu. Kan kasihan babi selalu jadi bahan olok2an. Dasar emang nasib babi ga pernah bagus, dendeng dan abon pun ditarik dari peredaran.
Karena meratapi nasibnya yang ga pernah bagus di dunia ini, para babi-pun kehilangan nafsu makan, tak nyenyak tidur, dan ga sempet olahraga. Akhirnya mereka-pun terserang flu. sialnya, babi ga punya toko obat, begitu juga di toko-toko obat, mereka belum menjual obat flu babi, selain itu babi juga ga punya sapu tangan dan masker, so mereka suka bersin sembarangan. Sehingga virus itu menyebar dan menular ke manusia.
Demikian sekelumit sejarah flu babi langsung dari sumber yang dapat dipercaya. Kalo anda ga percaya silahkan hubungi toko-toko babi terdekat di kota anda.
Pesan Oknum Babi adalah, "ga usah kuatir, selama lu ga ngerasa babi, lu ga bakalan kena flu babi. Wassalam i love you... muach muach muach"
Diposting oleh cafelosophy di 16.05 | 0 komentar  
Langganan: Komentar (Atom)