Senin, 04 Mei 2009

May Your Band isn't SUCK!!!!


“Tuhan selamatkan aku dari fitnah lagu band ecek-ecek..”

Godaan untuk menyaksikan performance band dan acara musik dalam negeri yang ecek-ecek memang besar. Cukup bangun pagi, nyalakan TV apapun nama stasiunnya, maka telinga anda akan dijejali lagu mendayu-dayu, bait cinta cengeng ditinggal pergi kekasih, musikalitas yang asal-asalan, presenter yang asal teriak-teriak melecehkan temannya yang tidak normal (saya kira ini lebih sopan daripada saya sebut menyimpang) dan omong kosong tentang life style. So I always say thanks God I never awake up in the morning.
Saat ini perkembangan musik dalam negeri secara kuantitas dan industri memang menggembirakan. Hampir tiap minggu muncul band baru. Walaupun pembajakan merajalela dan merampok penghasilan musikus (terutama pihak lebel), namun itu tak menciutkan nyali label untuk mengorbitkan band-band baru, karena mereka diselamatkan oleh operator seluler lewat RBT (ring back tones). Hal ini (munculnya banyak band) tentu saja disambut secara meriah oleh stasiun TV. Atas nama pasar dan rating, TV-pun rame-rame bikin acara musik. Tidak lupa mereka juga mengungkapkan dalil, masyarakat butuh hiburan. Apalagi kehidupan sebagian masyarakat Indonesia yang notabene pemirsa TV, dalam keadaan kurang beruntung (dibelenggu kemiskinan). Sehingga mereka butuh “candu” yang bisa menghilangkan atau minimal untuk sejenak melupakan penderitaan tersebut.
Penikmat musik (pemirsa TV) memang butuh hiburan, tapi hal ini jangan dijadikan alasan oleh label, TV dan tentu saja musisi untuk meniadakan kualitas musik atau program musik di TV.
Menurut saya, pada dasarnya bisnis musik adalah bisnis jasa yang mulia. Dimana para musisi yang kreatif, punya intuisi, imajinasi, dan pandangan hidup yang lebih baik dibandingkan masyarakat pada umumnya, menuangkan ide dan karya tertinggi mereka dalam bentuk musik dan lagu, untuk dinikmati dan mengantarkan penikmatnya pada “ekstase” atau bila perlu pada pencerahan. Sebagai timbal baliknya, masyarakat akan memberikan pada mereka sebuah “nilai”. Namun hal itu tidak saya temukan pada perkembangan musik di Indonesia saat ini (semoga saya salah).
Bisnis musik sekarang tak ubahnya dagang krupuk. Beraneka rupa dan bentuk kemasan tapi kualitas dan isinya sama “krupuk” dengan bahan yang itu-itu saja.
Diposting oleh cafelosophy di 21.23 |  

0 komentar:

Langganan: Posting Komentar (Atom)