Sabtu, 16 Mei 2009

Toni sang Mesiah

Setelah menikmati kopi, Toni mengeluarkan sebungkus kertas kecil, kelihatannya seperti buku agenda mungil dengan cover warna kuning, bergambar seorang koboy dari saku jaket kulitnya. Selanjutnya, Toni membuka backpack yang ditaruh di kursi kosong, sebelah dia duduk. Diambilnya kantong berbahan daun pandan hutan yang ternyata berisi rejengan tembakau. Dia ambil rejengantembakau dari dalam kantong pandan, terus dengan cekatan, jari-jari Toni melinting tembakau itu dalam kertas kecil. Sret… sret… dia jilat ujung kertas paling luar dari gulungan itu, kemudian ia rekatkan. Maka jadilah sebatang rokok kretek.
“Ini Sam. Best ever cigarette in the world.” kata Toni menyerahkan rokok buatannya itu pada ku. “Tembakau ini asli dari Madura, khusus ayas beli buat Sam”

“You are still Toni, whom I know.” kataku pada Toni sambil menerima pemberiannya.

“Everybody’s changing but I don’t feel same”

“Hahaha itu kan lirik lagunya Kane” kataku, “sejak kapan lu suka jadi plagiat?”

“Bukan plagiat, tapi mengutip” kata Toni beralasan sambil menyalakan korek gasnya dan mempersilahkan aku membakar rokok pemberiannya.

Huffff…ehhh… aku mulai menikmati rokok kretek buatan Toni. “Wow… lu emang paling ahli bikin rokok Ton” puji ku.

“Itulah gunanya ikut kajian MAKAR hahaha”

Mendengar kata makar, ingatanku kini melayang ke masa lalu. Sembilan tahun silam, aku dan Toni adalah salah satu anggota lembaga kajian yang bernama Makar di kota Malang. Lembaga kajian ini didirikan oleh Fariz, seniorku di kampus. Awalnya aku sama sekali tak tertarik untuk ikut, saat Sam Fariz menawariku untuk bergabung ke dalam Makar.

“Ga lah, Sam. Aktif di organisasi bagi gue terlalu beresiko” kataku saat itu.

“Emang kenapa?” tanya Sam Fariz.

“Gue kan baru semester tiga”

“Terus?”

“Ya…gue takut ga bisa konsen kuliah aja. Belum lagi kalo di curigai sama silup. Bisa-bisa diciduk gue” jawabku beralasan. Saat itu konsekuensi menjadi aktivis sangatlah berat. Aktivis harus siap menghadapi 3B, Bui, Buang, atau Bunuh. Aku merasa tidak akan pernah siap menghadapi itu semua. Dalam hidup, aku hanya ingin lulus kuliah, kerja, terus bisa membina rumah tangga yang bahagia. Bukankah kebanykan manusia menginginkan itu?.

“Idealismu itu menyakitkan Bel, tapi manusia tanpa idealisme sama saja dengan binatang” kata Sam Fariz mengutip fatwa Mahatma Gandhi. Aku terdiam, merasa bersalah dengan diriku sendiri yang sudah egois. Namun aku tak punya pilihan yang lebih baik. Take it or leave it. Itulah pilihan hidup yang tak bisa ku pungkiri.

“Ya udah ga usah dibuat pusing. Tapi kalo umak mo gabung, ayas tunggu di sini besok jam 3 sore” ujar Sam Fariz seakan tahu apa yang mengganggu pikiranku saat itu.

“Ok Sam, sorry banget nih”

“Ga apa-apa, ayas ngerti kok” kata Sam Fariz sambil mengedipkan mata kirinya terus menyalamiku dan pergi meninggalkanku sendirian di bangku taman kampus.

Sampai sekarang aku masih belum percaya, kenapa saat itu aku bisa memutuskan untuk bergabung dengan Sam Fariz di Makar. Padahal awalnya aku kukuh tak mau bergabung. Mungkinkah saat itu aku mendapat pencerahan? Atau merasa tertekan dengan omongan Sam Fariz? Entahlah. Faktanya, aku dengan delapan orang lainnya akhirnya menjadi anggota kajian Makar dan menghabiskan waktu bersama layaknya sebuah keluarga. Hingga tiba satu malam, ketika Toni mengetuk pintu kamarku dan menyuruhku secepatnya meningalkan Malang, aku tak pernah menyesali keputusanku untuk bergabung dengan Makar.

Malam itu juga aku kembali ke Jakarta meninggalkan semuanya. Termasuk studiku yang sampai saat ini tidak pernah ku selesaikan.

Ada apa Sam? Kok jadi ngelamun gitu?” Tanya Toni.

“Ah ga’…” kilahku, “gue cuman ke-inget masa-masa di Malang

“Ow…”

“Oh iya Ton, lu dapet nomer hp gue dari sapa sih?” Tanya ku penasaran terus menyeruput kopi yang tak panas lagi.

Ada lah… saat ini ayas belum bisa kasih tau” jawab Toni yang tak mampu menghilangkan rasa penasaranku.

“Terus kabar anggota Makar yang lain gimana?”

“Jawaban itu yang ayas cari disini Sam” jawab Toni. Aku makin bingung dengan jawaban Toni. Apa yang sebenarnya dia cari di Jakarta.

Diposting oleh cafelosophy di 10.18 |  

0 komentar:

Langganan: Posting Komentar (Atom)