Toni sang Mesiah

“You are still Toni, whom I know.” kataku pada Toni sambil menerima pemberiannya.
“Everybody’s changing but I don’t feel same”
“Hahaha itu
“Bukan plagiat, tapi mengutip” kata Toni beralasan sambil menyalakan korek gasnya dan mempersilahkan aku membakar rokok pemberiannya.
Huffff…ehhh… aku mulai menikmati rokok kretek buatan Toni. “Wow… lu emang paling ahli bikin rokok Ton” puji ku.
“Itulah gunanya ikut kajian MAKAR hahaha”
Mendengar kata makar, ingatanku kini melayang ke masa lalu. Sembilan tahun silam, aku dan Toni adalah salah satu anggota lembaga kajian yang bernama Makar di
“Ga lah, Sam. Aktif di organisasi bagi gue terlalu beresiko” kataku saat itu.
“Emang kenapa?” tanya Sam Fariz.
“Gue
“Terus?”
“Ya…gue takut ga bisa konsen kuliah aja. Belum lagi kalo di curigai sama silup. Bisa-bisa diciduk gue” jawabku beralasan. Saat itu konsekuensi menjadi aktivis sangatlah berat. Aktivis harus siap menghadapi 3B, Bui, Buang, atau Bunuh. Aku merasa tidak akan pernah siap menghadapi itu semua. Dalam hidup, aku hanya ingin lulus kuliah, kerja, terus bisa membina rumah tangga yang bahagia. Bukankah kebanykan manusia menginginkan itu?.
“Idealismu itu menyakitkan Bel, tapi manusia tanpa idealisme sama saja dengan binatang” kata Sam Fariz mengutip fatwa Mahatma Gandhi. Aku terdiam, merasa bersalah dengan diriku sendiri yang sudah egois. Namun aku tak punya pilihan yang lebih baik. Take it or leave it. Itulah pilihan hidup yang tak bisa ku pungkiri.
“Ya udah ga usah dibuat pusing. Tapi kalo umak mo gabung, ayas tunggu di sini besok jam 3 sore” ujar Sam Fariz seakan tahu apa yang mengganggu pikiranku saat itu.
“Ok Sam, sorry banget nih”
“Ga apa-apa, ayas ngerti kok” kata Sam Fariz sambil mengedipkan mata kirinya terus menyalamiku dan pergi meninggalkanku sendirian di bangku taman kampus.
Sampai sekarang aku masih belum percaya, kenapa saat itu aku bisa memutuskan untuk bergabung dengan Sam Fariz di Makar. Padahal awalnya aku kukuh tak mau bergabung. Mungkinkah saat itu aku mendapat pencerahan? Atau merasa tertekan dengan omongan Sam Fariz? Entahlah. Faktanya, aku dengan delapan orang lainnya akhirnya menjadi anggota kajian Makar dan menghabiskan waktu bersama layaknya sebuah keluarga. Hingga tiba satu malam, ketika Toni mengetuk pintu kamarku dan menyuruhku secepatnya meningalkan
Malam itu juga aku kembali ke
“
“Ah ga’…” kilahku, “gue cuman ke-inget masa-masa di
“Ow…”
“Oh iya Ton, lu dapet nomer hp gue dari sapa sih?” Tanya ku penasaran terus menyeruput kopi yang tak panas lagi.
“
“Terus kabar anggota Makar yang lain gimana?”
“Jawaban itu yang ayas cari disini Sam” jawab Toni. Aku makin bingung dengan jawaban Toni. Apa yang sebenarnya dia cari di




