Jumat, 01 Mei 2009

Sejarah Flu Babi

Sejarah ini gue tulis menurut pengakuan salah satu babi, yang selanjutnya kita sebut oknum babi. Atas permintaan oknum babi tersebut, namanya ga ingin disebutin. Supaya para pembaca ga penasaran, gue akan coba kasih inisialnya aja, setujukan?. Depannya BA, belakangnya BI. Umur 3 tahun. Siswa sekolah menengah kejuruan BABI ngempot.
Untuk wawancara dengan doi, gue mesti sabar nungguin nih babi di kantin sekolahnya. Karena doi lagi ikut UN (ujian ngempot). dan begitu selesai UN oknum babi tersebut segera nemuin gue. Dan berikut ini, kira-kira hasil wawancara gue sama tuh oknum babi.
Menurut oknum babi tersebut, Setelah booming dengan pilem babi ngepet, ternyata warga babi belum merasa puas. Eksistensi mereka di dunia gosip dan berita masih kalah sama artis ibu kota yang rame-rame cerai. Alhasil dengan sedikit bujuk rayu, ato malah dengan sedikit ciuman dan pelukan, Abang Raditya Dika pun takluk dan rela menulis cerpen yang didedikasikan buat warga Babi di seluruh dunia. Yang berjudul, Babi ngesot.
Namanya juga babi, mo digimanain juga tetep aja babi. Hewan yang dikutuk oleh umat manusia seantero jagad raya. (Kasihan...) Apa gerangan salah Babi? Sampe anak-anak mereka kalo jalan pun menunduk karena malu dibilang bokap nyokanya babi. (Tragis...)
Merasa tidak ada kebanggan menjadi babi, umat babi lagi-lagi berusaha menghilangkan identitas ke-babiannya. (katanya sih, mumpung pemerintah belum ngeluarin kartu tanda babi) Mereka mencampur dagingnya pada dendeng dan abon sapi. Bukannya dipanggil dendeng dan abon sapi, produk ini malah dibilang dendeng dan abon babi, padahal selain berbahan daging babi, produk ini kan terang2an nyantumin berbahan daging sapi. Kenapa ga di sebut aja dendeng dan abon sabi (alias sapi+babi). Biar lebih adil dan berperi kehewanan gitu. Kan kasihan babi selalu jadi bahan olok2an. Dasar emang nasib babi ga pernah bagus, dendeng dan abon pun ditarik dari peredaran.
Karena meratapi nasibnya yang ga pernah bagus di dunia ini, para babi-pun kehilangan nafsu makan, tak nyenyak tidur, dan ga sempet olahraga. Akhirnya mereka-pun terserang flu. sialnya, babi ga punya toko obat, begitu juga di toko-toko obat, mereka belum menjual obat flu babi, selain itu babi juga ga punya sapu tangan dan masker, so mereka suka bersin sembarangan. Sehingga virus itu menyebar dan menular ke manusia.
Demikian sekelumit sejarah flu babi langsung dari sumber yang dapat dipercaya. Kalo anda ga percaya silahkan hubungi toko-toko babi terdekat di kota anda.
Pesan Oknum Babi adalah, "ga usah kuatir, selama lu ga ngerasa babi, lu ga bakalan kena flu babi. Wassalam i love you... muach muach muach"
Diposting oleh cafelosophy di 16.05 |  

0 komentar:

Langganan: Posting Komentar (Atom)