Menara Babel

Drrrrrt drrrrrt… hp dalam saku celanaku terasa bergetar. “Pasti Toni” pikirku sambil mengambil hp.
“Sam ayas sudah sampe Gambir. Sam Abel dimana?”
“Eh Ton, gue di lantai dua. Lu turun aja, gue tunggu pas didepan tangga” jawab ku.
“Ok deh”
Tak lama kemudian ku lihat cowok dengan jaket kulit berwarna hitam dan celana jeans belel menuruni anak tangga. Di pundaknya terdapat backpack yang bergelayut manja. Rambutnya sebahu dan bergelombang, gayanya mengingatkanku pada personel F4. Senyumnya langsung mengembang begitu melihatku.
“Sam…” teriak Toni terus memelukku. Aku terdiam, tak mampu menemukan kata-kata penyambutan untuk seorang teman yang sudah lama berpisah. Aku pasrah dalam pelukan Toni, ku rasakan hangat dekapannya. Rasa tulus yang ku temukan kembali, seperti saat dia memelukku untuk terakhir kalinya di terminal Arjosari,
“Kenapa Sam. Kok diam?” Tanya Toni begitu menyadari keganjilanku sambil melepaskan pelukannya.
“Gue takut dibilang homo sama orang yang ngeliat kita pelukan Ton”
“Ha ha ha” Toni tertawa lepas. Tak terbesit sedikitpun rasa canggung pada dirinya. Dia masih utuh seperti yang dulu. Aku jadi malu, karena pagi ini, Toni telah mengajariku bagaimana seharusnya seorang pria menghadapi kenyataan dan berperilaku terhadap temannya.
“Wah pagi-pagi gini, kayaknya asik nih Sam kalo kita ngopi”
“Ternyata kelakuan lu ga berubah ya Ton” kata ku
“Tapi traktir yo Sam…” rengek Toni sambil merangkul pundakku
“Iya… asal ga lebih dari dua cangkir aja” ujarku mengajukan syarat
“Ha ha ha. Beres”
“Mo ngopi dimana nih Ton?” tanyaku ketika kita berdua berjalan mengelilingi ruang tunggu bundar di lantai dua stasiun Gambir.
“Ayas pengen ngopi sambil ngeliat MONAS Sam” jawab Toni polos.
“Ya udah, kalo gitu kita ngopi disitu aja” kataku menunjuk café disebelah kiri tangga ke lantai dasar. Café ini ada di sisi timur lantai dua stasiun Gambir. Dari balik kacanya, pengunjung bisa langsung menikmati pemandangan monas dan tamannya. Sedangkan di sisi barat tangga keluar, pemandangan yang terlihat adalah gereja Immanuel dengan kubahnya yang megah di seberang jalan.
“Dua original coffee mbak ya..” kataku pada kasir sekaligus merangkap pelayan di café ini.
“Baik bapak, silahkan tunggu
Aku dan Toni segera memilih tempat duduk. Biar bisa leluasa memandangi monas, aku sengaja memilih meja nomor 6. Meja yang berada tepat di tengah deretan meja yang tersedia di café.
Café ini bukanlah café besar. Bahkan tempat ini sebenarnya adalah jalan dari ruang tunggu bundar, menuju restoran siap saji yang berada di ujung selatan. Namun oleh pengelola stasiun, jalan ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian timur yang dekat jendela dijadikan café yang mempunyai sebelas meja stainless dengan empat kursi dengan bahan yang sama di masing-masing meja, yang ditata berderet dari selatan ke utara. Sedangkan di sisi barat, masih berfungsi sebagai mana mestinya, yakni jalan para penumpang dari ruang tunggu ke restoren siap saji. Sehingga banyak orang hilir mudik di samping meja tempat aku dan Toni ngopi.
Aku dan Toni duduk berhadapan. Dia memilih kursi yang menghadap ke selatan, karena dengan sedikit mengarahkan pandangannya ke kiri, dia bisa leluasa melihat monas. Hal yang sulit untuk ku lakukan dari tempatku duduk. Tentu saja alasan Toni, naïf bagiku. Menikmati monumen yang menjulang tinggi nan kaku di pagi hari yang indah.
“Menara babel…” kata Toni pelan dengan senyum sinis.
Dari semenjak kita duduk, mata Toni terus memandangi monas. Walaupun pandangannya harus beradu dengan sinar matahari pagi, Toni tak sedikitpun merasa silau. Dia benar-benar menikmati pemandangan menara babelnya itu. Beberapa kali ku lihat dia senyum-senyum sendiri. Entahlah apa yang ada dipikirannya, aku tak tahu. Yang ku tahu pasti, Toni sedang melihat monas, bukan menara babel yang didirikan sama raja Nimrod. Seperti yang dia ucapkan barusan. Tapi aku hanya diam, memberikan Toni waktu untuk menikmati monas. Walaupun aku harus menanggung gangguan beberapa pertanyaan dalam kepala. “Apa yang membuat Toni datang ke
Mungkin bagi beberapa orang yang duduk dibelakangku merasa janggal. Melihat dua laki-laki duduk di café tanpa sepatah kata yang terucap. Untungnya, tak seberapa lama pelayan datang mengantarkan pesanan. Sehingga aku ada alasan untuk mengganggu Toni.
“Silahkan bapak” kata pelayan ramah sambil menaruh pesanan di meja.
“Terima kasih ya mbak..”
“Sama-sama” ucap pelayan itu terus berlalu dari hadapanku.
“Ton, kopinya udah dateng nih. Mo ngopi ga?” tanyaku pada Toni.
“Oh iya” jawab Toni kaget. Mungkin dia baru sadar, kalau ada aku di depannya sejak tadi.
(Bersambung)




