GOLKAR dan Namaku

Berbekal kapur tulis sisa dari belajar di sekolah dasar yang gedungnya mau roboh, kami biasa menggambar lambang PPP (bintang) dan PDI (kepala banteng) di punggung jalan raya dengan sembunyi-sembunyi. Karena kenakalan kita (waktu itu) adalah hal yang tabu dan mengandung resiko buat dilakukan. Kalau ketahuan BABINSA orang tua kita bakal dipanggil KORAMIL dan pulang babak belur. Makanya tidak semua anak desa berani melakukannya. Hanya anak pemberani dan terhormat yang siap melakukan vandalism macam itu. Dari
Keberanianku membangkang secara diam-diam, sekaligus terlihat penurut didepan guru dan orang tua, membuatku punya tempat terhormat dalam persaudaraan pendawa
Menurut Bapak, sewaktu aku di dalam kandungan. Bapak ingin sekali memberi nama aku Muhammad Ka’bah. Dengan harapan suatu saat nanti aku bisa menjadi panutan (kiblat) bagi orang disekitarku (minimal hal ini pernah terjadi saat aku SD). Namun harapan tinggal-lah harapan. Bapak ternyata belum siap untuk diinterogasi sama koramil dan penghasilannya untuk menghidupi 8 anaknya hilang gara-gara nama salah satu anaknya yang kontroversial. Perlu diketahui, Ka’bah di tahun 80an adalah lambang PPP. Sedangkan bapak yang notabene PNS adalah umat KORPRI, yang harus menganut GOLKAR dalam hidupnya. Pilihan saat itu hanya dua bagi bapak yang pegawai rendahan. Pilih GOLKAR atau masuk neraka. Alhasil namaku-pun harus dimodifikasi ulang biar tidak terjadi fitnah. Bukan Muhammad Ka’bah seperti impian bapak, tapi Muhammad El Ka’bati. Walaupun sudah dimodifikasi, ternyata bapak tetap tak mau ambil resiko. Untuk menyembunyikan nama yang bagus itu, aku harus rela dipanggil Abonk.
Zaman telah berubah, orang-orang di dalamnya pun ikut berubah. Tapi tidak dengan namaku. Aku terus dipanggil Abonk oleh semua orang yang ku kenal. Dan aku bangga dengan itu semua
In my life GOLKAR is forgiven but not forgotten




