Rabu, 13 Mei 2009

GOLKAR dan Namaku

Aku dilahirkan di sebuah desa kecil sebelah selatan kabupaten Lamongan. Desaku terletak di samping hutan lindung. Antara desa dan hutan hanya dipisahkan jalan aspal yang menghubungkan kota Mojokerto dan Babat. Jalan ini adalah tempat dimana anak-anak desa biasa melakukan vandalism yang mengarah pada pemberontakan (tentunya untuk ukuran saat itu).
Lahir ditahun 80an dan menghabiskan masa kanak-kanak ditahun 90an, membuat anak seorang PNS golongan 1 A ini, kehilangan nama aslinya. Selain mencintai Nabi besar Muhammad SAW, aku juga dipaksa cinta sama H.M. Soeharto dan partainya GOLKAR. Sedangkan bagi anak petani, perangkat desa akan dengan suka rela menggantikan peran orang tua mereka untuk membimbingnya mencintai GOLKAR. Sayangnya, hal itu tidak pernah berhasil pada teman-temanku. Mungkin ungkapan yang cocok buatku dan teman-temanku sewaktu SD adalah, anak domba yang tersesat dalam orde baru.

Berbekal kapur tulis sisa dari belajar di sekolah dasar yang gedungnya mau roboh, kami biasa menggambar lambang PPP (bintang) dan PDI (kepala banteng) di punggung jalan raya dengan sembunyi-sembunyi. Karena kenakalan kita (waktu itu) adalah hal yang tabu dan mengandung resiko buat dilakukan. Kalau ketahuan BABINSA orang tua kita bakal dipanggil KORAMIL dan pulang babak belur. Makanya tidak semua anak desa berani melakukannya. Hanya anak pemberani dan terhormat yang siap melakukan vandalism macam itu. Dari lima cowok yang seumuran dengan ku waktu itu, hanya ada tiga yang berani melakukannya. Salah satunya adalah aku.

Keberanianku membangkang secara diam-diam, sekaligus terlihat penurut didepan guru dan orang tua, membuatku punya tempat terhormat dalam persaudaraan pendawa lima. Persaudaraan yang pernah aku dirikan dengan temen-temen sekelas sewaktu SD dulu. Kebetulan di kelasku dulu ada lima cowok, sehingga kita berlima suka mengidentikkan diri dengan pendawa. Dengan aku sebagai pemimpinnya.

Menurut Bapak, sewaktu aku di dalam kandungan. Bapak ingin sekali memberi nama aku Muhammad Ka’bah. Dengan harapan suatu saat nanti aku bisa menjadi panutan (kiblat) bagi orang disekitarku (minimal hal ini pernah terjadi saat aku SD). Namun harapan tinggal-lah harapan. Bapak ternyata belum siap untuk diinterogasi sama koramil dan penghasilannya untuk menghidupi 8 anaknya hilang gara-gara nama salah satu anaknya yang kontroversial. Perlu diketahui, Ka’bah di tahun 80an adalah lambang PPP. Sedangkan bapak yang notabene PNS adalah umat KORPRI, yang harus menganut GOLKAR dalam hidupnya. Pilihan saat itu hanya dua bagi bapak yang pegawai rendahan. Pilih GOLKAR atau masuk neraka. Alhasil namaku-pun harus dimodifikasi ulang biar tidak terjadi fitnah. Bukan Muhammad Ka’bah seperti impian bapak, tapi Muhammad El Ka’bati. Walaupun sudah dimodifikasi, ternyata bapak tetap tak mau ambil resiko. Untuk menyembunyikan nama yang bagus itu, aku harus rela dipanggil Abonk.

Zaman telah berubah, orang-orang di dalamnya pun ikut berubah. Tapi tidak dengan namaku. Aku terus dipanggil Abonk oleh semua orang yang ku kenal. Dan aku bangga dengan itu semua

In my life GOLKAR is forgiven but not forgotten

Diposting oleh cafelosophy di 10.24 |  

1 komentar:

Langganan: Posting Komentar (Atom)