Jumat, 25 Desember 2009

Sosok Dalam Cermin

Seharusnya aku mengenal sorot mata yang menatapku dari balik cermin. Senyum itu harusnya ada di bibirku. Guratan wajahnya seharusnya milikku. Wahai sosok dalam cermin, siapakah dirimu? Berilah aku waktu untuk mengenalmu. Mungkin sore ini kita bisa memesan tempat duduk di cafe, dekat jendela kaca besar, menikmati matahari yang terbenam sambil berbincang-bincang. Aku punya segudang cerita yang siap berbaris di ruang kosong antara kita. Atau kau hendak mendendangkan kasidah?. Percayalah, meskipun aku egois, aku bisa menjadi penikmat seni yang baik.
Rasanya sudah lama kita saling memandang. Namun selama itu pula kita tak saling kenal. Mungkin hidup ini sudah terlalu serakah dengan waktu, sehingga tak menyisahkannya buat kau dan aku. Bagaimana kalau kita bersekutu? Merampok waktu disaat orang-orang lengah. Mumpung malaikat dan setan masih asik berperang. Mumpung aku dan kau tak saling kenal. Sehingga tak akan ada yang berkhianat.
Ok! aku mengerti, kalau kau belum mau berbicara kepadaku. Mungkin kau susah percaya pada orang asing. Ini nomer telponku. Ku tulis di cermin kita. Kalau kau sudah merasa nyaman, hubungilah aku. Karena aku yakin kita bisa menjadi pasangan yang serasi.
Diposting oleh cafelosophy di 19.02 | 1 komentar  
Rabu, 23 Desember 2009

17 november

Mulanya aku berfikir, semua proses yang kujalani akan mengantarkan pada "kebebasan". Pendidikan, bisnis, dan menulis seakan mencerahkanku pada awalnya. Namun, disaat semua itu menemui titik jenuh, pembebasan yang kuharapkan itu hanyalah tali-tali yang mengikat kuat di tubuhku. Aku merasa terjebak dalam goa dengan tatanan yang "ideal". Mungkin aku adalah salah satu manusia goa-nya Plato. Terjebak dalam ruang yang ku sebut beradab nan berbudaya.
Sesekali aku berbisik pada malam, aku ingin menjadi Friedrich Wilhelm Nietzsche. Menjadi manusia super, dengan kehendak untuk berkuasa. "Hendak kau jebloskan kemana lagi dirimu?" tanya bintang yang bertebaran malam itu, "bukannya dirimu yang sekarang, ataupun hari esok adalah keserakahan? Lalu kenapa kau ingin berubah, bila selalu saja terjebak dalam lubang yang sama?"
Sejenak ku tenangkan pikiranku dengan segelas kopi dan sebatang rokok kretek. Sambil mengenang romantisme sekelompok pemberontak di kota Apel, yang kini tewas ditikam waktu. Suara yang dahulu lantang dan berapi-api, kini hanya menggema pada ruang sempit hatiku. Aku tak mampu lagi melihat bintang, karena mereka selalu meneriak-kan pertanyaan klasik, "dari gugus bintang manakah kau berasal? hendak ke galaksi mana kau akan mengakhiri perjalananmu?"
Ada penyesalan, ketidak puasan, dan keinginan yang bergejolak, dari lubuk hati seseorang yang terlahir sendiri dalam menghadapi perang abadi ini. Waktu terus berjalan, pertanyaan menghasilkan pertanyaan lanjutan. Tidak ada kesimpulan, semua berputar dalam tesis, anti tesis, dan sintesis.
Malam kian larut, jarum jam sudah menunjukkan pukul 03.00 saat hp-ku tiba-tiba menginterupsi.
"Halo.."
"Hai, apa kabar Sam?" sapa seorang laki-laki diseberang sana.
Aku tertegun, diam, bingung. Rasa kangen yang lama terpendam, ternyata membunuh semua kalimat yang tersedia dalam memori otakku. "benarkah ini engkau?" tanyaku dalam hati.
"Ini Sam Abel kan?"
"Iya" jawabku singkat, masih dengan perasaan yang penuh harap.
"Walah, kok diam aja. Ini Toni Sam!" jelas Toni, "masih ingatkan sama ayas. Temen waktu di Malang..."
"Iya"
"Kok jadi diam toh Sam, kaget ya ayas punya nomer hp Sam?"
"Mestinya lu ga usah nanya itu kali Ton!"
"ha ha ha iya maap, ada hal penting yang pengen ayas omongin Sam"
"Apaan Ton?" tanyaku penasaran.
"Sabar-lah.. pokoknya, Sam Abel kalo bisa sekarang juga ke sini"
"Ke mana?"
"Ke monas"
"Nah emang lu sekarang lagi di Jakarta? sejak kapan?"
"Sudalah Sam, basa-basinya entar aja. Sekarang Sam Abel kesini. aku tunggu sampe fajar, setelah itu ayas ga bisa nemuin Sam OK?!"
"Ton! Sialan hpnya udah di matiin lagi. Lu kira lapangan monas kayak halaman rumah?" gerutu gue ke Toni.
Aku perhatikan kalender, sekarang taggal 17 November 2009. Ini bukan tanggal ulang tahun gue maupun Toni. Lalu kenapa tiba-tiba Toni ingin bertemu? dari mana dia dapat nomer hp ku? ada perlu apa? kenapa harus menjelang fajar?
"Masa bodoh-lah, gue harus cepet-cepet ketemu Toni" pikirku langsung lari ke garasi.

(bersambung)
Diposting oleh cafelosophy di 08.46 | 1 komentar  
Selasa, 22 Desember 2009

Roti Bakar Elektrik


Minggu ini gue ngerasain apa yang dinamakan kolaborasi yang sempurna antara bakat dan alam. Males ternyata cocok banget kalo dipaduin sama hujan, ditambah lagi weekend maka yang akan dihasilkan adalah HIBERNASI ala anak kostan.
Siang dan malem udah ga ada bedanya lagi di kostan. Semua pintu, jendela dan tirai ditutup rapat-rapat. Gue sama temen-temen kostan, udah kayak segerombolan vampire yg bersembunyi dari sinar matahari dalam ruangan kecil yang gelap. Kebiasaan tidur selama hari sabtu dan minggu, selalu berulang disetiap akhir minggu. Sehingga para tetangga kita udah paham betul dengan ritual ini. Kadang kita suka mikir, kira-kira kapan ya kelakuan ini bisa berakhir? Kata temen gue Alfonso (cu shui), kita bakalan berhenti hibernasi kalo udah ada koran terbit dengan headline berikut: 4 MAHASISWA DITEMUKAN MEMBUSUK DALAM KAMARNYA.
"Bong... bong..." kata Ieday sambil terus goyang2in pundak gue yg masih asik tidur.
"Ada apa Dai?" tanya gue males2an.
"Katanya, mau tidur"
"Sialan lu, nih gue lagi tidur Bodoh!"
"Hehe becanda, gitu aja sewot, kayak beruang bunting lu!" kata Ieday terus nyeret gue, biar bangun.
"Ada apaan sih lu bangunin gue?" tanya gue begitu udah 80% sadar.
"Lu laper nggak?"
"Sebenernya sih iya"
"Makan yuk!" ajak Ieday
"Males jalan dai, ujan! lu masak mie aja, entar gue ikutan makan ok?"
"Mie-nya kan udah habis"
"Yaaa terus gimana dong?"
"Santai masih ada roti sama selai"
"Ogah ah, enegh gue makan roti sama selai" kata gue terus balik lagi tidur.
"dasar pemalas! ya udah lu tidur aja, gue mo masak"
"Kalo udah mateng bangunin gue ye..."
"Ogah!"
Entah apa yang bakal dimasak sama Ieday tengah malam gini. Beras ga ada, mie ga ada. Cuman ada roti & selai tanpa pemanggang roti pula!. Gue cuman bisa berdoa: Mudah-mudahan dia masih sadar dan tidak melakukan hal2 yg tidak senonoh dengan selai di dapur.
"Broth...bangun" kata Monhox
"Ada apa Nhox?"
"Ditunggu anak2 di ruang tengah"
"Ok lu duluan deh, gue cuci muka dulu" pesen gue ke Monhox.
Begitu gue nyampe ruang tengah ternyata personel kostan udah ngumpul. Ada Ieday, Sutan dan Monhox yang duduk melingkari sepiring roti bakar. Gue memandang penuh curiga ke Ieday. "plis jangan bilang lu habis ngepet!" kata gue dalem hati.
"Ayo ah! buruan udah ada laper nih!" teriak Sutan
"Eit, dari mana lu dapet roti bakar?" selidik gue
"Ieday broth yang bikin" jelas Monhox, sedangkan ieday senyum2 ga jelas, seakan mo pamer kecerdasannya.
"Lah, kita kan ga punya pemanggang roti" kata gue penuh rasa curiga.
"Banyakan omong nih" kata Sutan terus mulai makan roti bakar, disusul kemudian Monhox.
"Jadi gini bong, gue manggang rotinya pake setrika. Nyamm..." jelas Ieday sambil mengunyah sepotong roti bakar.
"Rasanya enak kok Broth, ga kalah sama roti bakar edi"
"Makasih deh" kata gue, "lu makan aja bertiga, gue udah kenyang".
"Wah beneran nih?" tanya Sutan.
"Iya..."
Seneng rasanya ngeliat temen kostan kompak. Makan bareng-bareng.
"Kenapa sih lu bong ga mo makan?" tanya Ieday.
"Iya, lu ada masalah broth?" tambah Monhox
"Enggak, gue ga ada masalah kok. Gue cuman jijik aja"
"Jijik kenapa? ini bersih, higienis lagi" jelas Sutan
"Higienis dari mana? setrika itu kan abis gue pake nyetrika celana dalem gue yg belum kering!"
"Anjrot!"
"Huekz"
"Sialan! kenapa lu ga bilang dari tadi. Huekz!!!"
"Salah ya gue?" tanya gue yang ngeliat temen-temen gue kompak muntah berjamaah.
"Ya iyalah..." jawab mereka kompak.
"huekzzz"
Diposting oleh cafelosophy di 13.46 | 2 komentar  
Sabtu, 05 Desember 2009

Ayo Dukung Ibu Prita Mulyasari

Alhamdulillah...
Ide untuk membantu Ibu Prita terus mengalir dari semua golongan. Tidak ketinggalan saya dan teman-teman juga terus merapatkan barisan, untuk melakukan dukungan nyata melalui GERAKAN 1000 RUPIAH UNTUK IBU PRITA. Diharapkan dari dana yang terkumpul bisa untuk membayar denda Ibu Prita.
Terima kasih untuk KOMUNITAS BLOGGER UIN JAKARTA, KOMUNITAS BLOGGER PINGGIRAN, dan terutama PMII CABANG CIPUTAT yang merelakan sekretariatnya dijadikan posko gerakan ini.
Kami juga merencanakan aksi damai pengumpulan 1000 tanda tangan dan 1000 rupiah /mahasiswa untuk mendukung perjuangan ibu Prita. Aksi ini insyaallah akan kami laksanakan pada tanggal 8 Desember 2009, di kampus UIN Syarif Hidayatullah jakarta. Mulai jam 08.00 wib - sampe selesai. Bekerja sama dengan PMII cabang ciputat, komunitas blogger UIN (dalam konfirmasi) dan komunitas blogger pinggiran. Kami mengharapkan partisipasi dari semua kalangan dan pihak untuk suksesnya aksi ini.
Besar harapan kami, teman-teman aktivis, blogger maupun pengguna internet terus berjuang untuk membantu Ibu Prita Mulyasari.
Kita jugaberencana menghadiri persidangan Ibu prita pada tanggal 9 desember 2009 di pengadilan tinggi tangerang, untuk menyerahkan dukungan tanda tangan dan dana yg terkumpul.
terima kasih
Diposting oleh cafelosophy di 04.14 | 0 komentar  
Kamis, 03 Desember 2009

URUNAN BLOGGER 1000 RUPIAH BUAT PRITA MULYASARI

Pengadilan tinggi Banten telah memutuskan Prita Mulyasari bersalah dalam sidang perdata dan dikenai hukuman dengan membayar ganti rugi material dan immaterial kepada pihak pengugat I, II dan III sebesar Rp 204 juta. (tempointeraktif)
Kasus Prita hanya permulaan. Selanjutnya mungkin saja saya, anda, atau keluarga anda yg akan didakwa oleh mereka yg tidak menyukai tulisan kita di blog, status facebook atau sekedar gosip di email kita.
204 juta adalah nominal yang amat sangat besar, buat seorang ibu rumah tangga. Sebagai sahabat dan keluarga seharusnya para pengguna internet, terutama teman-teman blogger ada gerakan nyata untuk mendukung beliau. Vonis sudah dijatuhkan, kita harus menghormati hukum. Meski terkadang terasa janggal.
Yang terhormat para Pemimpin negeri ini, sudah dipusingkan dengan dana 6,7 Triliun. Kita tidak bisa berharap banyak pada mereka. Mari para blogger indonesia bersatu, bergotong royong membantu saudari kita Prita Mulyasari dengan menyisihkan uang 1000 rupiah. Bukan sebuah nominal yang besar, tapi kalo kita bersatu, denda yg dikenakan pada saudari kita, PASTI BISA KITA BAYAR!
Ayo kawan-kawan BLOGGER! tunjukkan pada DUNIA kita BERSATU
Bagi anda yg ingin berpartisipasi bisa meninggalkan komentar dipostingan ini. atau bergabung di group facebook GERAKAN 1000 RUPIAH BUAT PRITA MULYASARI.
Diposting oleh cafelosophy di 18.30 | 1 komentar  
Senin, 30 November 2009

Menggapai Mimpi (part I)

Saat-saat ini hari gue begitu berwarna. Bangun pagi, mandi, terus berangkat ke kampus buat nemuin dosen pembimbing. Walaupun hasil pertemuan udah bisa ditebak, tapi gue selalu ngelakuin hal yg sama tiap hari (naif). Ga tau kenapa, tiap kali dosen pembimbing ngeliat muka gue, pilihan kalimatnya pasti: "taruh saja di meja" atau paling banter "oh ya skripsi kamu belum saya baca, silahkan kembali lagi besok".
Dengan nada rendah gue cuman berkata, "terima kasih pak". Salaman, cium tangan terus ngacir dari ruangan dosen. Gue 100% sadar, kalo dosen pembimbing gue itu super sibuk. Dunia pasti kiamat kalo ga diselametin sama yg terhormat beliau ini. Makanya sebagai mahasiswa yg baik, gue harus terima perlakuan super hero ini. Apalah arti sarjana seorang anak desa, dibandingin keselamatan dunia dan seisinya.
Diposting oleh cafelosophy di 19.36 | 0 komentar  
Minggu, 08 November 2009

Pembagian Anugerah Tuhan

Alkisah sebelum Tuhan menciptakan dunia dan isinya, arwah para manusia sudah dikumpulkan menurut negaranya. Berdasarkan urutannya ada China, India, amerika dan Indonesia.Tentu saja karena Tuhan itu adil, Negara-negara besar ini dipanggil lebih dulu untuk di kasih anugerah.
pertama Tuhan memanggil "China"
Negara yg penduduknya 1 milyar itu tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menentukan siapa wakil mereka, karena dengan gagah berani Mao Tze Tung langsung maju mewakili negaranya, maka dikaruniailah mereka "ilmu dagang"
Kemudian Tuhan memanggil, "India..."
Penduduk India semua segan sama Bapu Mahatma Gandhi, sehingga mereka pasrahkan Mahatma Gandhi untuk mewakili mereka. Maka india dikarunia "nilai spiritual yg tinggi"
Selanjutnya Tuhan memanggil "Amerika"
Para
penduduk Amerika langsung mengadakan pemilu dan George Washington terpilih untuk mewakili negeri paman Sam. Sehingga tuhan menganugerahi negeri ini "ilmu teknologi"
kini giliran Indonesia yg dipanggil oleh Tuhan, "indonesia"
Maka dikumpulkanlah warga Indonesia oleh Soekarno, Soeharto, Habibi, Gus Dur, Mega dan SBY. Mereka saling berebut untuk mewakili negara ini, pihak parlemen juga ga mau kalah mereka minta "mereka" yg mewakili karena mereka wakil rakyat. Perdebatan makin sengit dan butuh waktu lama. Sehingga giliran indonesia dipending dan diteruskan ke Negara-negara yg lain dulu.
Begitu pembagian itu selesai, barulah Indonesia sepakat diwakili oleh Soekarno. Sehingga majulah Soekarno. tapi sayang Tuhan sudah tak menyisakan anugerah buat negara ini karena sudah habis dibagi ke Negara-negara lain.
"Makanya jangan banyak omong..." celetuk malaikat
"kasihan... deh lu" teriak para pemimpin negara yg lain
Diposting oleh cafelosophy di 21.07 | 0 komentar  
Sabtu, 07 November 2009

"CICAK" Harus Tetap Hidup


Cicak lawan Buaya, kalimat yg pada awalnya diucapkan oleh "Bapak" (ditulis untuk menghormati orang yg lebih tua dari pada saya, bukan "salute" terhadap) Susno Duaji sebagai metafor sengketa antara KPK dan POLRI itu, kini menjelma menjadi mantera bagi sekelompok masyarakat untuk melakukan perubahan. Sialnya, mantera itu bak mantera santet yang kini "mengejar" sang empunya.
Inti pelajaran dari kasus Cicak versus Buaya adalah pepatah lama yang mengatakan: mulut-mu harimau-mu.
Kalau sang empunya mantera saja, tak sanggup mengendalikan kekuatan mantera itu, apalagi orang lain. Mantera itu kini bukan hanya sebuah kalimat yg dirapal, tapi sebuah kekuatan besar (people power) yang siap menghancurkan apapun yang menghalanginya untuk melakukan perubahan. Maka wajar, jika bapak presiden sampai melarang merapal mantera made in "bapak" Susno Duaji tersebut. Ada banyak kemungkinan, kenapa presiden ikut-ikutan takut pada mantera bikinan anak buahnya. Pertama, beliau tidak punya penangkal. Kedua, bisa jadi beliau termasuk orang yg sedang dikejar sama mantera tersebut. Wa allhu a'lam bishowab... (semoga saya salah)
Teks adalah realitas kehidupan kita. Melarang mengucapkan atau membuang teks dari kehidupan (seperti yg dilakukan oleh pejabat no 1) sama saja mengingkari sebuah kenyataan dan mengakui ketidak mampuan. Kanyataan ini seharusnya tidak boleh terlihat dari seorang pemimpin di saat keadaan membutuhkan bukti kecakapannya.
Saya jadi bertanya, apa yang salah dengan pemimpin saya? Toh pemimpin saya dipilih dengan metode dan teknik yang canggih! di impor dari negara yang dikatakan adi luhung, paling terdidik, paling berbudaya, harus dicontoh kalo pengen jadi menusia (bukan kera). Tapi hasilnya jauh lebih buruk dari hasil upacara lempar tulang, ataupun menunggu pulung yang hasilnya ditentukan oleh monopoli "dewa".
Di jaman canggih ini, kita "merebut" suara langit untuk menentukan pemimpin. Tapi kalo hasilnya seperti ini, buat apa?! ga ada guna! lalu siapa yg salah? tentu saja mereka yang memilih. Sudah seharusnya rakyat (yg memilih pemimpin terpilih) meminta maaf karena pemimpin yg mereka pilih tidak mampu mengemban amanah dengan benar, sehingga menyengsarakan mereka yg tidak memilih.
Efek dari ketidak mampuan inilah yang menyebabkan ada cicak versus buaya. Cicak versus buaya mungkin hanya kalimat bagi presiden. Tapi bagi saya tentu bukan! cicak versus buaya adalah realitas, kalau toh tidak bernama cicak versus buaya, tentu akan ada kalimat lain yg menggambarkan realitas tersebut. Karena kata pujangga apalah arti sebuah nama, mawar tetaplah mawar, andaikan bukan bernama mawar.
Realitas tak dapat dibohongi, dia tetap ada di alam sadar kita. Cicak harus tetap hidup, meskipun bukan bernama cicak. Karena buaya akan selalu ada, demi keseimbangan alam. Yin dan Yang. hitam dan putih. Tinggal kita para pelaku sejarah, harapan bangsa, akan ada dibarisan mana dalam pertarungan yg tiada henti hingga 1212. Eh sorry, maksudnya hingga kiamat hehehe
Diposting oleh cafelosophy di 19.34 | 0 komentar  
Minggu, 01 November 2009

Belajar Bisnis ala Feeding Frenzy


Bagi sebagian pembaca mungkin belum tau apa itu feeding frenzy. Makanya gue mesti ngejelasin dulu nih, Feeding frenzy (FF) adalah: game dimana pemainnya akan menjalankan se-ekor ikan kecil dengan bantuan mouse (tentunya! masak pake bantuan mbah dukun sih hihihi), buat makan ikan lainnya. Kemampuan makan ikan (yg kita mainkan) akan ter-upgrade bila mampu memakan ikan kecil, gelembung, dan mutiara, sehingga kita dibolehin melahap ikan -ikan besar yg pada awalnya cuman nguber-nguber ikan kita duank.
Dalam game ini, (sebenernya) ada pelajaran yg bisa kita petik, selain cara makan ikan dengan aman dan berenang. Yakni pelajaran bisnis, ini sih menurut pengamatan gue selama iseng2 main. Berikut adalah hasil penelitian sekaligus campuran ide, wangsit serta ilham yang diaduk dengan telor setengah mateng. jangan lupa kasih garam secukupnya.
Dalam FF, ikan kecil yg kita mainkan adalah simbol bila kita memulai usaha (wiraswasta). Kita harus memulai dengan memakan (menjual produk / mengumpulkan) pada ikan-ikan kecil (konsumen / uang yg beredar di masyarakat), tentu saja kita ga sendirian. Ada ikan besar (kompetitor mapan) yg geraknya lebih gesit dan lebih cepat dalam perburuan ikan kecil (termasuk kita). Sehingga selain mampu memangsa, kita juga wajib lihai dalam menghindar, kalo bisnis kita pengen terus berlanjut.
Ikan kecil (objek perburuan), dalam game ini sangat melimpah. Ada yang berkelompok ada juga yang sendiri2. Hal ini mencerminkan keadaan pasar atau konsumen. Mereka bersifat pasif, tidak memakan korban (tidak menjual barang/jasa). Kita (para usahawan pemula) bisa hidup dengan cara memakan (menyediakan jasa/barang yg mereka perlukan).
Ikan besar (kompetitor), kelompok ini bersifat aktiv. Mampu memakan semua ikan (baik itu konsumen maupun kita para usahawan kecil). Sehingga cara menghadapi kelompok ini adalah: dengan cara tidak berhadapan langsung, tapi dengan cara menghindar, sambil menyusun kekuatan (dengan cara melebarkan usaha) sehingga kita mampu memiliki kekuatan diatasnya dan mampu memakannya (bersaing).
Gelembung adalah simbol kesempatan mendapatkan proyek yg tak terduga. Gelembung ini bisa muncul kapan saja. Kalo kita sigap, kita mampu menangkap peluang itu. Nilai gelembung (proyek) ini biasanya lebih besar dari pada nilai memangsa ikan (pemasaran reguler).
Hati-hati dengan Kerang dan mutiaranya. Makhluk ini simbol dari kucuran kredit dari bank. Nilainya memang besar, tapi semuanya dibatasi oleh waktu, sehingga kalo ga hati-hati dan penuh perhitungan, anda bisa ditelan sama kerang (bank) tersebut.
Sesekali akan muncul ikan Hiu atau baracuda. Ini simbol bahwa tak ada usaha yang 100% aman di dunia ini. Jadi saat anda leading pun anda harus terus waspada, kalo tak ingin langkah anda terhenti.
Begitulah apa yang gue dapet dari main feeding frenzy selama 2 semester dan meninggalkan bangku kuliah. meskipun ga berguna bagi gua, semuga itu bisa berguna bagi anda.
terima kasih
Diposting oleh cafelosophy di 20.59 | 0 komentar  
Sabtu, 17 Oktober 2009

Ciputat Dalam Persimpangan

Dulu saran orang tua kepada anaknya yg kuliah di UIN Ciputat, “Nak silahkan kuliah di UIN, tapi jangan jadi mahasiswa-nya Karl Marx atau Ulil Abshar”. Maklum, di kota kecil sebelah selatan Jakarta ini, identik dengan kebebasan berfikirnya. Banyak organisasi islam berebut dan menggembleng kadernya di kampus UIN (dulu IAIN). Keadaan komunitas yg plural ini sudah lama ada di Ciputat. Tak heran bila Ciputat dianggap mempunyai madzhab sendiri, yakni Islam madzhab Ciputat.

Komunitas yg plural dengan pemikiran yg radikal di IAIN waktu itu, menyebabkan tudingan miring terhadap IAIN. Mulai dari tudingan IAIN sarang pemurtadan, sampai memelesetkan kepanjangan IAIN (Institut Agama Islam Negeri) menjadi Ingkar Allah Ingkar Nabi.

Namun seiring berjalannya waktu, setelah IAIN resmi berganti nama UIN, pertentangan ideology yang dibangun lewat lembaga kajian, perlahan mulai surut. Dampak dari turunnya animo mahasiswa terhadap lembaga kajian. Sehingga hanya menyisakan “pertarungan” antar dua ideology yakni: Islam moderat dan islam fundamental.

Islam moderat diwakili oleh organisasi semacam: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Ikatan Mahasiwa Muhamadiyah (IMM). Sedangkan islam fundamental berkembang seiring berkembangnya KAMMI, Lembaga Dakwah Kampus (LDK), dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). “Pertarungan” babak baru ini mulai seimbang, ketika IAIN berubah menjadi UIN dan membuka jurusan umum yang mahasiswanya didominasi lulusan SMA bukan dari kalangan pesantren dan Madrasah Aliyah seperti masa IAIN dulu.

Pergeseran background pendidikan mahasiswa UIN, dari pesantren dan madrasah aliyah ke SMA, ternyata secara tidak langsung, membuat organisasi islam fundamental berkembang. Mahasiswa yg berasal dari SMA sudah akrab dengan organisasi rokhis dan awam dengan organisasi-orginasi islam moderat yg memang tidak punya organisasi taktis di SMA. Sehingga begitu mereka masuk UIN, mereka akan memutuskan bergabung dengan organisasi “induk” yakni: KAMMI, LDK atau HTI. Begitu juga sebaliknya, para lulusan pesantren dan madrasah aliyah yang sudah akrab dengan islam moderat atau tradisional akan bergabung dengan HMI, PMII atau IMM.

Sehingga kalau kita lihat saat ini di UIN, basis masing-masing ideology dapat ditebak dengan mudah. Fakultas-fakultas islam “peninggalan” IAIN masih didominasi oleh organisasi islam moderat. Sedangkan fakultas-fakultas umum (baru dibuka setelah berubah menjadi UIN) menjadi basis organisasi islam fundamental, walaupun tidak keseluruhan.

Namun disaat pergulatan ide dan wacana ini mulai menarik. Kedua pihak dikagetkan dengan penangkapan mahasiswa UIN yg terlibat kasus terorisme. Kebetulan para mahasiswa ini belajar di fakultas sains dan teknologi yang tergolong fakultas umum. Apakah kejadian itu ada kaitannya dengan “pertarungan ideology”? entahlah. Pastinya, kasus terorisme bukanlah kriminal biasa seperti halnya copet. Banyak kepentingan yg ikut serta dalam kasus ini. Tapi bagaimanapun hal itu sangat disayangkan oleh semua pihak. Bahkan Rektorat terlihat responsive dengan akan mengubah kurikulum. Pertanyaannya, seberapa efektif langkah itu? Mengingat pemikiran mahasiswa dibangun saat dia sekolah, bukan saat dia kuliah. Karena kuliah hanyalah memperkaya wacana, bukan membentuk pribadi seseorang.

Mungkin saat ini, ada baiknya kalau orang tua mahasiswa UIN berpesan pada anaknya, “Nak silahkan kuliah di UIN, tapi jangan jadi teroris”

Diposting oleh cafelosophy di 18.29 | 2 komentar  
Selasa, 13 Oktober 2009

Who is Terrorist?

Jumat kemaren tiba-tiba HP gue (yg lagi silence mode) terus-terusan bergetar. Gue jadi bingung, sebenernya nih Hp ato vibrator?!. Jangan-jangan hp gue ada fasilitas vibratornya lagi???. Sungguh fasilitas yg mubazir bagi seorang pemuda, meskipun kesepian (buat apa coba?). Ato bisa jadi ini adalah produk vibrator NOKIA dengan fasilitas hp (wow teknologi yg inovatif). Entahlah, gue belum sempet nanya ke counter NOKIA.
Mendadak semua orang yg gue kenal, mulai dari bokap, adek, saudara, temen, sampe tetangga, pada nanyain: bener ga sih di Ciputat ada terorist yg digrebek sama densus 88? kosan lu jauh ga dari tempat penggrebekan? lu ikut nonton donk! katanya mahasiswa UIN Jakarta ada yg terlibat lho? bla bla bla... Gue sendiri malah bengong ga tau apa-apa. Bukannya gue yg ngejawab pertanyaan mereka. Eh malah mereka yg asik cerita.
Gue sendiri sih ga mo ambil pusing dengan semua nama teroris yg disodorkan oleh media pada kita. Gue juga ga mo tau tentang orang yg pada sibuk mencari-cari jaringan sel Noordin M Top di Negara ini. Gue cuman peduli pada satu hal, sebenernya siapa sih teroris itu?
Orang lebih suka menunjuk ke luar, daripada introspeksi dirinya. Mereka sibuk menemukan teroris yg berjenggot, padahal kambing juga berjenggot, tapi kita semua ga ada yg percaya kalo kambing teroris (iya toh, bener toh, enak toh, asik toh?). Teroris bisa saja berjas dan berdasi. Berseragam militer. Duduk di singgasana. Jangan-jangan karena kita sibuk mencari teroris di luar, kita lupa bahwa sebenarnya "kita"lah yg benar-benar teroris.
Apa kriteria mahluk yg dicap "biadab" ini? para pembunuhkah? Kalo itu yg dijadikan patokan. Bukannya para "pembunuh" itu juga saat ini dikejar oleh "pembunuh" lainnya. Itu berarti ada teroris yg mengejar teroris. (ambigu)
Atau kita bisa saja berkata teroris adalah "orang yg menebar teror". Tapi lagi-lagi di Negara ini banyak kelompok yg menebar teror. Para cendekiawan yg berkoar-koar di televisi misalnya. Omongan mereka kok serasa lebih meneror saya, daripada memperkaya wacana. Belum lagi beberapa organisasi yg siap menghalalkan darah bagi mereka yg tidak se-ide.
Mereka yang meresahkan rakyat dengan kebijakannya, korupsinya, nepotismenya, apakah lolos dari ungkapan teroris? itu semua terserah pada kalian.
Inget sama pepatah Bang Napi, "kejahatan (terorisme) tidak hanya muncul karena ada niat, tapi juga karena adanya kesempatan". Bisa jadi gue dan kalian sebenarnya adalah teroris yg lagi ngantri alias menunggu giliran untuk dilabelin. Apapun aktivitas dan status lu bisa mengubah lu menjadi teroris.
Para direktur utama perusahaan bisa jadi teroris bagi karyawannya. Dosen bisa jadi teroris bagi mahasiswanya. Mahasiswa bisa jadi teroris bagi orang tua mereka. Presiden bisa jadi teroris bagi rakyatnya. Lalu siapa yg bisa lolos dari jeratan term teroris??? Tidak ada. Lalu kenapa kita ikut-ikutan mengutuk orang, kalo diri kita sendiri adalah terkutuk. Bukannya sesama pencopet dilarang mencopet?
Tulisan ini hanya sebagai bahan renungan buat kita bersama. Bukan untuk menghakimi diri kita. Apalagi menggurui, enggak ada niat sama sekali. Kenali diri, sebelum memberikan label pada orang lain. Alangkah indahnya kalo kita tidak asal mengucilkan, menghina, men-cap, menghakimi orang yg menempuh jalurnya yg berbeda dengan kita.
Wa Allahu a'lam bi Showab...
Diposting oleh cafelosophy di 21.40 | 2 komentar  
Kamis, 08 Oktober 2009

Blogger (R)evolution


Lama ga berkunjung ke blog temen-temen. Ternyata banyak perubahan yang bermuara pada satu tujuan yakni: BISNIS, pada blog mereka (dan gue tentunya). Beberapa temen bergabung dengan bisnis online, sebagian lagi menulis dengan bahasa inggris dan mendaftar di google adsense. Sedangkan gue menggunakan blog gue buat promo pakaian yg gue jual. So... blog yang pada awalnya buat sharing ide itu, kini menjelma menjadi alat promosi dan pengundang rupiah. Sebenarya fenomena bisnis online dan bla bla bla itu udah lama terjadi. Cuman gue ga kepikiran kalo itu juga bakal meracuni gue dan temen-temen.
Penggunaan blog yang tidak ditarik biaya alias gratis menjadikan blog menjadi pilihan utama dalam menyebarkan info. Tentu saja peluang ini tidak disia-siaka oleh mereka yg bergelut dalam dunia bisinis. Untuk menyebar luaskan informasi tentang produk dan komoditas mereka ke pengguna internet terutama fans setia google.
Daya tarik menghasilkan uang dari blog, menggeser peran blog untuk share "ide" yang lebih serius. Blog untuk saat ini lebih banyak berperan dalam hal promosi, dari pada kritik sosial, share karya sastra maupun karya ilmiah. Apakah ini imbas dari latar belakang pengguna blog? (wa Allahu a'lam bi al showab).
Yang pasti saat ini gue dan beberapa temen gue berubah dalam memaknai kehadiran blog. Apakah anda juga?
Kalo anda bertanya apakah ini evolusi atau revolusi blogger?
gue jawab: "i do'nt know!".
Diposting oleh cafelosophy di 14.48 | 0 komentar  
Jumat, 11 September 2009

Cooming soon; Adidas F5

Setelah sukses dengan penjualan jersey Arsenal, MU, dan Barca. Sahabat Sport (SS) akan segera menjual sepatu futsal ADIDAS F5 dan NIKE. Bagi sahabat-sahabat yang berminat, silahkan menabung dari sekarang. Karena stock akan mulai di jual sehabis lebaran.
Ukuran yang tersedia adalah: 41, 42, 43, dan 44. seperti biasa harga sepatu original ini kita jual dengan harga miring, yakni RP.300.000
Biar ga kehabisan silahkan memesan mulai sekarang.
Thanks

best regards
sahabat sport media
Diposting oleh cafelosophy di 22.18 | 0 komentar  
Selasa, 08 September 2009

5 Alasan Anda Harus Membeli Jersey Barca

Jersey El Barca di samping, bagi penggila bola sangatlah berasejarah dan layak di jadikan koleksi. Ada banyak alasan yang mendasari kenapa jersey tandang el barca (yg dipake 2 musim) ini harus segera menghiasi lemari koleksi anda.
Minimal ada 6 alasan yang didapat oleh penulis untuk mengoleksi jersey tersebut.
1. Barcelona F.C (Barca) sebagaimana semboyannya: mes que un club (more than club). Tidak hanya sebuah klub sepak bola. Akan tetapi Barca adalah representasi pemberontakan penduduk Catalan terhadap Spanyol.
Jika Catalan adalah negara, maka Barca adalah serdadu mereka.
2. Jersey ini dikeluarkan bersamaan dengan ulang tahun kandang barca Camp Nou yang ke-50 (1957-2007).
3. Jersey ini pula yang dipakai Carlos Puyol dkk, saat melibas MU di partai final liga champion 2008-2009.
4. Jersey Barca adalah salah satu Jersey yang tidak menampilkan iklan. Melainkan sosial dengan menampilkan nama UNICEF. Dengan mencantumkan logo UNICEF, barca tidak memperoleh bayaran dari badan PBB itu. Melainkan malah Barca yg harus menyumbangnya.
5. Harga yang kami tawarkan sangatlah murah yakni: 130.000 (belum termasuk ongkos kirim). Kapan lagi anda bisa mengoleksi jersey asli yg bersejarah sekaligus murah kalo tidak sekarang? cepat hubungi nomer kami dibawah ini.
081 585 743 161 (abonk)
Buruan persediaan terbatas.

Diposting oleh cafelosophy di 20.38 | 0 komentar  
Sabtu, 05 September 2009

Obral Kaos Barca & Arsenal

Buat temen2 BLOGGER sekarang KOSANKU resmi menjual kaos dan sepatu sport dengan harga miring tapi kualitas terjamin. Bagi BLOGGER jakarta yang berminat bisa dateng langsung ke KOSANKU di Jalan Pesanggrahan Ciputat (samping kampus UIN). dan buat temen2 BLOGGER luar Jakarta, kita juga melayani pembelian dengan pembayaran via rekening (saat ini tersedia BNI dan MANDIRI).
Terima kasih.
Jersey tandang Bercelona FC musim 2007-2008
ukuran M
Produksi NIKE
Harga: 130.000 IRD (belum termasuk ongkos kirim)

Jersey ARSENAL F.C
Ukuran M
Produksi NIKE
Harga: 130.000 IRD (belum termasuk onkos kirim)
Diposting oleh cafelosophy di 23.45 | 0 komentar  
Senin, 06 Juli 2009

Our Jogja


Nyasar di pantai


beginilah gaya anak ilang di Candi Prambanan



Diposting oleh cafelosophy di 13.30 | 3 komentar  
Rabu, 03 Juni 2009

Manohara Save My Mood


Every morning when I awake up and watch TV, I always say "Thanks a lot Manohara. you save my mood" Gue ga bisa ngebayangin kalo tipi ga berebut nayangin berita Manohara Odilia Pinot, apa jadinya nasib gue dan jutaan pemirsa tipi yang lainnya. Mungkin kita udah berak, muntah gara-gara keracunan (alergi) omongan (WTF) politisi. Bagi beberapa orang tulisan gue ini dianggap lebay, tapi bagi gue ini sebuah kenyataan yang mesti gue sampeiin dengan setulus hati. Buat semua acara infotainment, berita, dan dialogue yang telah jadiin Manohara lebih terkenal dari pasangan semua capres di Negara ini. Gue ucapin banyak-banyak terima kasih.
Gue dan bahkan mungkin jutaan pemirsa tipi di Indonesia udah capek! liat muka politisi yang memenuhi layar kaca belakangan ini. Dari pagi sampe pagi lagi, pemirsa tipi sering dipaksa menikmati muka mereka dalam acara debat kusir. Udah tua, kagak keren, banyak omong, ngumbar janji, ga tau malu, saling umbar kejelekan, sampe bikin statemen rasial pula. (oh my goodness) Separah itukah tabiat politisi negara ini? Lalu apa yang bisa kami harapkan dari mereka? Nothing!
Disaat rasa muak dan bosan menjejali otak gue saat ngeliat muka para politisi, berita tentang Manohara dengan mukanya yang cantik dan kisahnya yang mirip telenovela bisa menjadi sedikit penghibur. Minimal durasi buat muka politisi bisa sedikit berkurang (thanks God). Inilah negara gue, negara reality show!. and I enjoy it!!!
Percaya ga percaya, gue sempet terprovokasi sama infotainment yang terus-terusan nayangin berita Manohara yang teraniaya. Bahkan gue sampai nawarin temen-temen di group Pojok Kampus Kita buat bikin petisi SELAMATKAN MANOHARA DARI GENGGAMAN KERAJAAN KLANTAN. Sayang ide gue yang gila, belum bisa diterima sama anggota group yang kebanyakan masih waras. Untungnya, ada Laskar Merah Putih yang berhasil menjalankan tugas itu. Good job guys.
Diposting oleh cafelosophy di 09.29 | 4 komentar  
Selasa, 26 Mei 2009

Siswa SMA Berkeliaran di Malaysia (benarkah?)

Hari ini gue baru aja ditelphone sama temen SMA, yang sekarang udah kerja di Malaysia. Omongan kita sih awalnya ga jauh-jauh dari gosip sesama mantan warga kelas 3 IPS 1. Ternyata setelah 7 tahun berpisah, banyak temen gue yg udah pada married dan punya anak. Ada yang jualan bakso di Kalimantan, gue berharap sih yang beli manusia bukan bekantan. Ada juga temen gue yang suka pindah-pindah kerja keliling Indonesia, namanya Naim, tapi sekarang temen-temen SMA gue lebih suka manggil doi, Marco Polo. Karena hobinya pindah dari satu pulau ke pulau lain sambil naik kapal laut (angkat layarnya, kapten...!). Mungkin Marco Polo Jr ini masih belum percaya sama omongan Pak Dul Wakid (guru IPS kami dulu) kalo dunia itu bulet. Semangat Im! sapa tau abis keliling Indonesia nilai Geographi lu 90.
Kembali lagi ke Malaysia neh. Gue baru aja dapet cerita seru dari temen gue. Ternyata di Malaysia itu banyak TKI yang berkelakuan menyimpang. Kata temen gue sih kelakuan mereka ini termasuk golongan Nasionalis Narsis. Saran temen gue sih, kalo suatu saat lu berpusing-pusing (keliling) di Malaysia, terus ngeliat bapak-bapak ato ibu-ibu make baju SMA di Mall ato jalanan, jangan kaget, apalagi nanya sama mereka skulah dimana (karena itu hal yang memalukan). Mereka itu bukan siswa SMA yang lagi bolos.
Asal lu tau aja, seragam SMA sekarang jadi trend mode TKI masa kini. Ga cuman bernostalgia mereka juga bergaya dengan seragam putih abu-abunya. Emang aneh sih, tapi mungkin itu satu-satunya cara mereka buat mengenang masa lalunya. Padahal mereka kan ga semuanya skolah dan lulus SMA, terus seragam itu dapet dari mana donk? bisa jadi bikin sendiri, ato minta kiriman sama keluarga yg di Indonesia. Ck ck ck...gaya emang ga ada matinya
Lebih gilanya lagi, ternyata pakaian SMA yang lengkap dengan bet OSIS-nya itu ga cuman dipake saat jalan-jalan plus nongkrong, tapi dipake juga kalo lagi upacara kemerdekaan 17 Agustus di Kedutaan besar RI di Malaysia. Auw auw auw Asli, gue ga tega ngebayangin segerombolan bapak-bapak sama ibu-ibu berseragam SMA upacara. Dunia emang udah gila...
Diposting oleh cafelosophy di 20.43 | 1 komentar  

Benarkah Facebook Haram?

Duhai Tuhanku... aku tak pantas menjadi penghuni surga
Tetapi diriku juga tak kuat terhadap siksa neraka

Tuhan... Ku akui, aku GOLPUT (yang menurut fatwa MUI itu haram). Selain umatnya Nabi Muhammad SAW, aku juga pengguna setia FACEBOOK (lagi2 menurut sebagian Ulama di Jawa Timur itu Haram). Belum lagi kelakuan-kelakuan ku yang lain. Tentulah dosa hambaMu ini menggunung bak Semeru. Sedangkan kebaikanku, tak sebesar biji Sawi. Pantaskah aku masih berharap surga?

(Munajatku malam ini)

Mungkin pertanyaan gue ini juga mampir di otak teman2 pengguna facebook, Situs pertemanan yang lagi booming ini, tiba2 dinyatakan haram sama sebagian Ulama di Kediri, Jatim. Kayaknya gue perlu ingetin sama teman-teman pengguna facebook. Jangan nyari dalil di Al Quran atau Hadits nabi, karena gue bisa pastiin hukum facebook haram disana ga bakalan ada. keluarnya fatwa haram terhadap facebook adalah hasil musyawarah sebagian ulama di Kediri dan tidak mewakili semua ulama di Indonesia.
Seperti yang gue liat di Tipi, salah satu Kyai itu memberi penjelasan (seingat gue) sebagai berikut: "Facebook dinyatakan haram karena, facebook dijadikan media untuk berhubungan antara cewek dan cowok (yang bukan Muhrim) yang bisa menimbulkan sahwat". Jadi menurut hemat pemikiran gue, yang haram itu bukan facebook, tapi pengguna facebook yang menjadikan situs ini untuk ajang mencari pacar atau mencari pasangan kencan. Perlu diingat juga, sebelum facebook booming, sudah ada friendster, situs yang serupa sama facebook.
Sebenernya bukan hanya situs macam Facebook atau friendster yang bisa dijadikan media untuk berhubungan antara cewek dan cowok. Situs penyedia chating macam Yahoo messenger sama MIRC malah lebih parah!. Di dua situs terakhir ini, sebagian ID chatternya malah lebih parah, porno abiss (walaupun ga semuanya juga sih), tapi kalo dibandingin sama facebook, facebook is better than MIRC and Yahoo messenger. Selain itu, teknologi Telephon dan sms juga mempunyai efek yang sama. Lalu kenapa cuman facebook yang diharamin?
Gue jadi kuwatir, jangan-jangan keputusan ini hanya respon membabi buta terhadap perkembangan facebook. Tanpa mempelajari lebih mendalam terhadap facebook. Kalo kekhwatiran gue bener, alangkah naifnya keputusan itu!. Apalagi kemudian salah satu ketua PBNU K. H. Tolhah Hasan menyatakan, "Facebok tak harus disikapi secara halal atau haram" tentu hal ini sebagai pengingat (tamparan mungkin lebih tepatnya) bagi mereka yang sudah mengeluarkan fatwa tersebut.
Mau bagaimanapun, fatwa sudah keluar. Pro dan Kontra mengikutinya. resistensi dari pengguna facebook juga telah terjadi dengan munculnya group penentang fatwa haram terhadap facebook. Kini gue cuman berharap, kedewasaan para Ulama dan pengguna facebook untuk berdialog. Sehingga ada proses dialektika diantara kita semua. Bukan saling claim kebenaran, karena kebenaran hanyalah milik Tuhan semesta alam.
Waallahu a'lam Bishowab...
Diposting oleh cafelosophy di 14.10 | 2 komentar  
Minggu, 24 Mei 2009

Preman di Kampung Ustadz

Hari Rabu kemaren, gue dimintain tolong sama temen buat ngisi materi, teknik persidangan pada acara LDK (latihan dasar kepemimpinan) di salah satu SMA di daerah Bogor. Sejak awal gue udah males2an, abisna gue lagi kejar setoran buat skripsi. Tapi berhubung temen gue itu udah mentok dan ga nemuin narasumber (pinter kayak gue), akhirnya gue-pun mengiyakan (itung2 nolong temen yg lagi kesusahan). Lagian selama ini gue udah sering banget ngisi materi yang sama di pelatihan2 organisasi kampus gue. Jadi gue udah hapal betul apa yg perlu disampein.
Seperti yg kami rencanain, gw dijemput sama temen gue itu di Parung. Selama perjalanan ke tempat tujuan, temen gue ini ngasih tau gue, kalo ngomong di acara nanti jangan terlalu vulgar (artinya gue ga boleh ngomong asal jeplak). "Ok" jawabku. Gue 100% paham ini acara anak SMA, jadi ada beberapa hal yang mungkin ga pas buat diomongin. Sampai saat itu, gue masih berpikiran kalo SMA tempat ngajar temen gue ini, SMA normal. Seperti kebanyakan SMA yang bernaung di yayasan.
Tapi, alamak... ternyata SMA ini ada di Pesantren. (Gila gue nervous banget) Pas tau kalo gue nyampein materi teknik persidangan di Masjid bukan di aula seperti bayangan gue. Layaknya seorang Kiai, gue duduk di atas kursi didepan 60 santri yang hanya duduk lesehan di lantai. Dalam ati gue terus2an ngumpat! kalo tau gini, gue ga bakalan pake kaos oblong, celana jeans, plus gelang di tangan.
Gue sampe ga berani ngebayangin apa yg dipikirin sama santri2 begitu ngeliat penampilan gue, Kayak preman di kampung ustadz. Gue nyampeiin materi dengan cara teriak2 di depan mereka sambil ngacung2in tangan khas aktivis kampus yang lagi demo. Dan mereka cuman ngangguk2 kayak lagi mabok sambal. Masih untung gue bisa nyeleseiin materi gue selama 2 jam, tanpa lemparan sandal sang Kiai. Makanya begitu selesai gue-pun langsung kaburrrrr
Diposting oleh cafelosophy di 16.29 | 1 komentar  
Senin, 18 Mei 2009

I GOT AWARDS



Wow... I'm speechless. Kaget, merinding, terus ujung2nya meriang. Pas tau dapet award dari Charlettaz hari ini. Setenar itukah diriku sampe berhak menerima dua awards sekaligus? Ato jangan-janga muka dan suaraku ini udah mirip sama Afgan (huuuu ngarep!) sehingga berhak dapet awards?. Walaupun nominee-nya ga disebutin sapa aja, gue yakin Charlettaz ga bakal nyesel udah milih gue sebagai penerimanya. (sombhong...) Karena kalo dibandingin sama Sumanto dan Sunami, cuman gue yang ga suka cari korban. (hubungannya?)
berhubung Awards ini buat di Share, awards ini juga gue kasih ke:
Bembeng
Dhofier
Donlenon
Ieday
Imam
Awards harus diambil paling lambat 2x24 jam semenjak pengumuman ini di posting. Bila terlambat, jangan salahin gue kalo diambil sama yang lain.
Diposting oleh cafelosophy di 12.30 | 1 komentar  
Sabtu, 16 Mei 2009

Toni sang Mesiah

Setelah menikmati kopi, Toni mengeluarkan sebungkus kertas kecil, kelihatannya seperti buku agenda mungil dengan cover warna kuning, bergambar seorang koboy dari saku jaket kulitnya. Selanjutnya, Toni membuka backpack yang ditaruh di kursi kosong, sebelah dia duduk. Diambilnya kantong berbahan daun pandan hutan yang ternyata berisi rejengan tembakau. Dia ambil rejengantembakau dari dalam kantong pandan, terus dengan cekatan, jari-jari Toni melinting tembakau itu dalam kertas kecil. Sret… sret… dia jilat ujung kertas paling luar dari gulungan itu, kemudian ia rekatkan. Maka jadilah sebatang rokok kretek.
“Ini Sam. Best ever cigarette in the world.” kata Toni menyerahkan rokok buatannya itu pada ku. “Tembakau ini asli dari Madura, khusus ayas beli buat Sam”

“You are still Toni, whom I know.” kataku pada Toni sambil menerima pemberiannya.

“Everybody’s changing but I don’t feel same”

“Hahaha itu kan lirik lagunya Kane” kataku, “sejak kapan lu suka jadi plagiat?”

“Bukan plagiat, tapi mengutip” kata Toni beralasan sambil menyalakan korek gasnya dan mempersilahkan aku membakar rokok pemberiannya.

Huffff…ehhh… aku mulai menikmati rokok kretek buatan Toni. “Wow… lu emang paling ahli bikin rokok Ton” puji ku.

“Itulah gunanya ikut kajian MAKAR hahaha”

Mendengar kata makar, ingatanku kini melayang ke masa lalu. Sembilan tahun silam, aku dan Toni adalah salah satu anggota lembaga kajian yang bernama Makar di kota Malang. Lembaga kajian ini didirikan oleh Fariz, seniorku di kampus. Awalnya aku sama sekali tak tertarik untuk ikut, saat Sam Fariz menawariku untuk bergabung ke dalam Makar.

“Ga lah, Sam. Aktif di organisasi bagi gue terlalu beresiko” kataku saat itu.

“Emang kenapa?” tanya Sam Fariz.

“Gue kan baru semester tiga”

“Terus?”

“Ya…gue takut ga bisa konsen kuliah aja. Belum lagi kalo di curigai sama silup. Bisa-bisa diciduk gue” jawabku beralasan. Saat itu konsekuensi menjadi aktivis sangatlah berat. Aktivis harus siap menghadapi 3B, Bui, Buang, atau Bunuh. Aku merasa tidak akan pernah siap menghadapi itu semua. Dalam hidup, aku hanya ingin lulus kuliah, kerja, terus bisa membina rumah tangga yang bahagia. Bukankah kebanykan manusia menginginkan itu?.

“Idealismu itu menyakitkan Bel, tapi manusia tanpa idealisme sama saja dengan binatang” kata Sam Fariz mengutip fatwa Mahatma Gandhi. Aku terdiam, merasa bersalah dengan diriku sendiri yang sudah egois. Namun aku tak punya pilihan yang lebih baik. Take it or leave it. Itulah pilihan hidup yang tak bisa ku pungkiri.

“Ya udah ga usah dibuat pusing. Tapi kalo umak mo gabung, ayas tunggu di sini besok jam 3 sore” ujar Sam Fariz seakan tahu apa yang mengganggu pikiranku saat itu.

“Ok Sam, sorry banget nih”

“Ga apa-apa, ayas ngerti kok” kata Sam Fariz sambil mengedipkan mata kirinya terus menyalamiku dan pergi meninggalkanku sendirian di bangku taman kampus.

Sampai sekarang aku masih belum percaya, kenapa saat itu aku bisa memutuskan untuk bergabung dengan Sam Fariz di Makar. Padahal awalnya aku kukuh tak mau bergabung. Mungkinkah saat itu aku mendapat pencerahan? Atau merasa tertekan dengan omongan Sam Fariz? Entahlah. Faktanya, aku dengan delapan orang lainnya akhirnya menjadi anggota kajian Makar dan menghabiskan waktu bersama layaknya sebuah keluarga. Hingga tiba satu malam, ketika Toni mengetuk pintu kamarku dan menyuruhku secepatnya meningalkan Malang, aku tak pernah menyesali keputusanku untuk bergabung dengan Makar.

Malam itu juga aku kembali ke Jakarta meninggalkan semuanya. Termasuk studiku yang sampai saat ini tidak pernah ku selesaikan.

Ada apa Sam? Kok jadi ngelamun gitu?” Tanya Toni.

“Ah ga’…” kilahku, “gue cuman ke-inget masa-masa di Malang

“Ow…”

“Oh iya Ton, lu dapet nomer hp gue dari sapa sih?” Tanya ku penasaran terus menyeruput kopi yang tak panas lagi.

Ada lah… saat ini ayas belum bisa kasih tau” jawab Toni yang tak mampu menghilangkan rasa penasaranku.

“Terus kabar anggota Makar yang lain gimana?”

“Jawaban itu yang ayas cari disini Sam” jawab Toni. Aku makin bingung dengan jawaban Toni. Apa yang sebenarnya dia cari di Jakarta.

Diposting oleh cafelosophy di 10.18 | 0 komentar  
Rabu, 13 Mei 2009

GOLKAR dan Namaku

Aku dilahirkan di sebuah desa kecil sebelah selatan kabupaten Lamongan. Desaku terletak di samping hutan lindung. Antara desa dan hutan hanya dipisahkan jalan aspal yang menghubungkan kota Mojokerto dan Babat. Jalan ini adalah tempat dimana anak-anak desa biasa melakukan vandalism yang mengarah pada pemberontakan (tentunya untuk ukuran saat itu).
Lahir ditahun 80an dan menghabiskan masa kanak-kanak ditahun 90an, membuat anak seorang PNS golongan 1 A ini, kehilangan nama aslinya. Selain mencintai Nabi besar Muhammad SAW, aku juga dipaksa cinta sama H.M. Soeharto dan partainya GOLKAR. Sedangkan bagi anak petani, perangkat desa akan dengan suka rela menggantikan peran orang tua mereka untuk membimbingnya mencintai GOLKAR. Sayangnya, hal itu tidak pernah berhasil pada teman-temanku. Mungkin ungkapan yang cocok buatku dan teman-temanku sewaktu SD adalah, anak domba yang tersesat dalam orde baru.

Berbekal kapur tulis sisa dari belajar di sekolah dasar yang gedungnya mau roboh, kami biasa menggambar lambang PPP (bintang) dan PDI (kepala banteng) di punggung jalan raya dengan sembunyi-sembunyi. Karena kenakalan kita (waktu itu) adalah hal yang tabu dan mengandung resiko buat dilakukan. Kalau ketahuan BABINSA orang tua kita bakal dipanggil KORAMIL dan pulang babak belur. Makanya tidak semua anak desa berani melakukannya. Hanya anak pemberani dan terhormat yang siap melakukan vandalism macam itu. Dari lima cowok yang seumuran dengan ku waktu itu, hanya ada tiga yang berani melakukannya. Salah satunya adalah aku.

Keberanianku membangkang secara diam-diam, sekaligus terlihat penurut didepan guru dan orang tua, membuatku punya tempat terhormat dalam persaudaraan pendawa lima. Persaudaraan yang pernah aku dirikan dengan temen-temen sekelas sewaktu SD dulu. Kebetulan di kelasku dulu ada lima cowok, sehingga kita berlima suka mengidentikkan diri dengan pendawa. Dengan aku sebagai pemimpinnya.

Menurut Bapak, sewaktu aku di dalam kandungan. Bapak ingin sekali memberi nama aku Muhammad Ka’bah. Dengan harapan suatu saat nanti aku bisa menjadi panutan (kiblat) bagi orang disekitarku (minimal hal ini pernah terjadi saat aku SD). Namun harapan tinggal-lah harapan. Bapak ternyata belum siap untuk diinterogasi sama koramil dan penghasilannya untuk menghidupi 8 anaknya hilang gara-gara nama salah satu anaknya yang kontroversial. Perlu diketahui, Ka’bah di tahun 80an adalah lambang PPP. Sedangkan bapak yang notabene PNS adalah umat KORPRI, yang harus menganut GOLKAR dalam hidupnya. Pilihan saat itu hanya dua bagi bapak yang pegawai rendahan. Pilih GOLKAR atau masuk neraka. Alhasil namaku-pun harus dimodifikasi ulang biar tidak terjadi fitnah. Bukan Muhammad Ka’bah seperti impian bapak, tapi Muhammad El Ka’bati. Walaupun sudah dimodifikasi, ternyata bapak tetap tak mau ambil resiko. Untuk menyembunyikan nama yang bagus itu, aku harus rela dipanggil Abonk.

Zaman telah berubah, orang-orang di dalamnya pun ikut berubah. Tapi tidak dengan namaku. Aku terus dipanggil Abonk oleh semua orang yang ku kenal. Dan aku bangga dengan itu semua

In my life GOLKAR is forgiven but not forgotten

Diposting oleh cafelosophy di 10.24 | 1 komentar  

Menara Babel

Aku berdiri bimbang di ujung tangga jalur 1 stasiun Gambir. Deretan anak tangga berwarna hijau muda didepanku terlihat seperti punggung naga. Tangga itu telah menelan keberanianku. Beberapa kali aku menghela nafas, namun tak membuat nyaliku datang. Kaki ku terasa lemas dan gemetar. Hingga aku hanya bisa terpaku sambil berpegangan pada besi panjang pembatas tangga yang menyalurkan rasa dingin ke telapak tangan. Beberapa penumpang KA Kamandanu terlihat sudah mulai menuruni anak tangga. Sepintas mereka memeperhatikan muka ku, terus berlalu begitu saja.
Drrrrrt drrrrrt… hp dalam saku celanaku terasa bergetar. “Pasti Toni” pikirku sambil mengambil hp.

“Sam ayas sudah sampe Gambir. Sam Abel dimana?”

“Eh Ton, gue di lantai dua. Lu turun aja, gue tunggu pas didepan tangga” jawab ku.

“Ok deh”

Tak lama kemudian ku lihat cowok dengan jaket kulit berwarna hitam dan celana jeans belel menuruni anak tangga. Di pundaknya terdapat backpack yang bergelayut manja. Rambutnya sebahu dan bergelombang, gayanya mengingatkanku pada personel F4. Senyumnya langsung mengembang begitu melihatku.

“Sam…” teriak Toni terus memelukku. Aku terdiam, tak mampu menemukan kata-kata penyambutan untuk seorang teman yang sudah lama berpisah. Aku pasrah dalam pelukan Toni, ku rasakan hangat dekapannya. Rasa tulus yang ku temukan kembali, seperti saat dia memelukku untuk terakhir kalinya di terminal Arjosari, Malang. Tujuh tahun silam.

“Kenapa Sam. Kok diam?” Tanya Toni begitu menyadari keganjilanku sambil melepaskan pelukannya.

“Gue takut dibilang homo sama orang yang ngeliat kita pelukan Ton”

“Ha ha ha” Toni tertawa lepas. Tak terbesit sedikitpun rasa canggung pada dirinya. Dia masih utuh seperti yang dulu. Aku jadi malu, karena pagi ini, Toni telah mengajariku bagaimana seharusnya seorang pria menghadapi kenyataan dan berperilaku terhadap temannya.

“Wah pagi-pagi gini, kayaknya asik nih Sam kalo kita ngopi”

“Ternyata kelakuan lu ga berubah ya Ton” kata ku

“Tapi traktir yo Sam…” rengek Toni sambil merangkul pundakku

“Iya… asal ga lebih dari dua cangkir aja” ujarku mengajukan syarat

“Ha ha ha. Beres”

“Mo ngopi dimana nih Ton?” tanyaku ketika kita berdua berjalan mengelilingi ruang tunggu bundar di lantai dua stasiun Gambir.

“Ayas pengen ngopi sambil ngeliat MONAS Sam” jawab Toni polos.

“Ya udah, kalo gitu kita ngopi disitu aja” kataku menunjuk café disebelah kiri tangga ke lantai dasar. Café ini ada di sisi timur lantai dua stasiun Gambir. Dari balik kacanya, pengunjung bisa langsung menikmati pemandangan monas dan tamannya. Sedangkan di sisi barat tangga keluar, pemandangan yang terlihat adalah gereja Immanuel dengan kubahnya yang megah di seberang jalan.

“Dua original coffee mbak ya..” kataku pada kasir sekaligus merangkap pelayan di café ini.

“Baik bapak, silahkan tunggu lima menit” ujar kasir.

Aku dan Toni segera memilih tempat duduk. Biar bisa leluasa memandangi monas, aku sengaja memilih meja nomor 6. Meja yang berada tepat di tengah deretan meja yang tersedia di café.

Café ini bukanlah café besar. Bahkan tempat ini sebenarnya adalah jalan dari ruang tunggu bundar, menuju restoran siap saji yang berada di ujung selatan. Namun oleh pengelola stasiun, jalan ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian timur yang dekat jendela dijadikan café yang mempunyai sebelas meja stainless dengan empat kursi dengan bahan yang sama di masing-masing meja, yang ditata berderet dari selatan ke utara. Sedangkan di sisi barat, masih berfungsi sebagai mana mestinya, yakni jalan para penumpang dari ruang tunggu ke restoren siap saji. Sehingga banyak orang hilir mudik di samping meja tempat aku dan Toni ngopi.

Aku dan Toni duduk berhadapan. Dia memilih kursi yang menghadap ke selatan, karena dengan sedikit mengarahkan pandangannya ke kiri, dia bisa leluasa melihat monas. Hal yang sulit untuk ku lakukan dari tempatku duduk. Tentu saja alasan Toni, naïf bagiku. Menikmati monumen yang menjulang tinggi nan kaku di pagi hari yang indah.

“Menara babel…” kata Toni pelan dengan senyum sinis.

Dari semenjak kita duduk, mata Toni terus memandangi monas. Walaupun pandangannya harus beradu dengan sinar matahari pagi, Toni tak sedikitpun merasa silau. Dia benar-benar menikmati pemandangan menara babelnya itu. Beberapa kali ku lihat dia senyum-senyum sendiri. Entahlah apa yang ada dipikirannya, aku tak tahu. Yang ku tahu pasti, Toni sedang melihat monas, bukan menara babel yang didirikan sama raja Nimrod. Seperti yang dia ucapkan barusan. Tapi aku hanya diam, memberikan Toni waktu untuk menikmati monas. Walaupun aku harus menanggung gangguan beberapa pertanyaan dalam kepala. “Apa yang membuat Toni datang ke Jakarta?” “Kenapa dia menyebut monas dengan menara babel?” “Apa yang disembunyikan Toni dari ku?” Tetap saja aku tak sampai hati mengganggunya dengan pertanyan-pertanyaanku. Aku takut Toni tersinggung. Apalagi ini adalah pertemuan pertamaku dengannya setelah tujuh tahun.

Mungkin bagi beberapa orang yang duduk dibelakangku merasa janggal. Melihat dua laki-laki duduk di café tanpa sepatah kata yang terucap. Untungnya, tak seberapa lama pelayan datang mengantarkan pesanan. Sehingga aku ada alasan untuk mengganggu Toni.

“Silahkan bapak” kata pelayan ramah sambil menaruh pesanan di meja.

“Terima kasih ya mbak..”

“Sama-sama” ucap pelayan itu terus berlalu dari hadapanku.

“Ton, kopinya udah dateng nih. Mo ngopi ga?” tanyaku pada Toni.

“Oh iya” jawab Toni kaget. Mungkin dia baru sadar, kalau ada aku di depannya sejak tadi.


(Bersambung)
Diposting oleh cafelosophy di 10.13 | 0 komentar  
Senin, 04 Mei 2009

I'm Belongs Manchester United


ini poto diambil sebelum pertandingan
TIMNAS meladeni Australy
yang berakhir imbang 0-0

Meskipun gue punya jersey Liverpool bukan berarti gue Liverpooldian. Gue 100% belongs Manchester United. (nah lho aneh kan?) Jersey ini gue beli di Bandung (tempat dan harganya gue udah lupa). Sampe sekarang gue masih suka mikirin kecelakaan ini. Pendukung setia Manchester United yang dengan tanpa rasa bersalah udah beli jersey musuh bebuyutannya.
Awalnya sih gue pengen banget beli jersey MU, tapi sayang adanya cuman jersey yang buat laga tandang berwarna putih. padahal gue ngebet banget punya kaos berwarna merah. Alhasil sambil mejamin mata dan baca al fatiha buat Sir Alex Ferguson, gue comot tuh jersey liverpool. (maafkan cucumu ini ya engkong Fergie...). Gue pikir kejadian itu bakalan jadi kelakuan menyimpang terakhir gue sebagai fans MU. Ternyata salah! lagi-lagi gue ngulangin hal yang sama. Kemaren pas gue lagi beli soft drink di mini market, gue liat korek gas merk TOKAI dengan logo_logo team premier league di meja kasir. Spontan gue nyari2 korek gas dengan logo MU. tapi nasib gue emang ga pernah bagus, kata kasirnya korek gas MU udah habis!!! (sialan) karena udah tertarik. akhirnya gue beli korek gas dengan logo Liverpool aja (Why liverpool?) gue juga kagak ngarti.
Tapi santai, sebagai pendukung setia MU, bukan berarti gue ga punya jersey kesebelasan yang dihuni Christiano Ronaldo (CR7) ini. Gue punya jersey istimewa, karena dibeli langsung di Old Trafford sama abang gue yang waktu itu sempat main2 ke England. So gue pikir dosa gue masih bisa diampuni hehehe
Ngomongin MU, pasti lu semua pada tahu kalo nanti bulan Juli mereka bakal ngadain tour di Indonesia. Penjualan tiketnya akan dimulai pada bulan Juni (harap bersabar, abis EO-nya lebih mentingin para peng-iklan yang belum tentu suka bola, daripada Fans macem gue), di pintu 1 Gelora Bung Karno. Jadi kalo lu mo nonton nih pertandingan, buruan siapin duit karena harga tiketnya lumayan mahal mulai dari 100 ribu sampe 3,5 juta. (saran gue: Pilihlah kelas sesuai kemampuan dompet). Perlu diinget tiket yang tersedia cuman 65.000 lembar (padahal kapasitas GBK adalah 85.000), jadi lu mesti usaha ngedapetin nih tiket jauh-jauh hari. Karena pihak panitia yakin kalo tiket bakalan habis sebelum hari H. Tuh kan... dari pada lu beli tiket di calo yg harganya bisa naik 300%, mending juga lu antri dah tuh entar bulan Juni bareng gue. Jadi uang sisanya bisa buat beli bacang sama tahu buat digado saat nonton MU vs Super liga selection nanti. Ok bro...
Gue tunggu di gelora Bung Karno!
Diposting oleh cafelosophy di 22.37 | 0 komentar  

May Your Band isn't SUCK!!!!


“Tuhan selamatkan aku dari fitnah lagu band ecek-ecek..”

Godaan untuk menyaksikan performance band dan acara musik dalam negeri yang ecek-ecek memang besar. Cukup bangun pagi, nyalakan TV apapun nama stasiunnya, maka telinga anda akan dijejali lagu mendayu-dayu, bait cinta cengeng ditinggal pergi kekasih, musikalitas yang asal-asalan, presenter yang asal teriak-teriak melecehkan temannya yang tidak normal (saya kira ini lebih sopan daripada saya sebut menyimpang) dan omong kosong tentang life style. So I always say thanks God I never awake up in the morning.
Saat ini perkembangan musik dalam negeri secara kuantitas dan industri memang menggembirakan. Hampir tiap minggu muncul band baru. Walaupun pembajakan merajalela dan merampok penghasilan musikus (terutama pihak lebel), namun itu tak menciutkan nyali label untuk mengorbitkan band-band baru, karena mereka diselamatkan oleh operator seluler lewat RBT (ring back tones). Hal ini (munculnya banyak band) tentu saja disambut secara meriah oleh stasiun TV. Atas nama pasar dan rating, TV-pun rame-rame bikin acara musik. Tidak lupa mereka juga mengungkapkan dalil, masyarakat butuh hiburan. Apalagi kehidupan sebagian masyarakat Indonesia yang notabene pemirsa TV, dalam keadaan kurang beruntung (dibelenggu kemiskinan). Sehingga mereka butuh “candu” yang bisa menghilangkan atau minimal untuk sejenak melupakan penderitaan tersebut.
Penikmat musik (pemirsa TV) memang butuh hiburan, tapi hal ini jangan dijadikan alasan oleh label, TV dan tentu saja musisi untuk meniadakan kualitas musik atau program musik di TV.
Menurut saya, pada dasarnya bisnis musik adalah bisnis jasa yang mulia. Dimana para musisi yang kreatif, punya intuisi, imajinasi, dan pandangan hidup yang lebih baik dibandingkan masyarakat pada umumnya, menuangkan ide dan karya tertinggi mereka dalam bentuk musik dan lagu, untuk dinikmati dan mengantarkan penikmatnya pada “ekstase” atau bila perlu pada pencerahan. Sebagai timbal baliknya, masyarakat akan memberikan pada mereka sebuah “nilai”. Namun hal itu tidak saya temukan pada perkembangan musik di Indonesia saat ini (semoga saya salah).
Bisnis musik sekarang tak ubahnya dagang krupuk. Beraneka rupa dan bentuk kemasan tapi kualitas dan isinya sama “krupuk” dengan bahan yang itu-itu saja.
Diposting oleh cafelosophy di 21.23 | 0 komentar  
Minggu, 03 Mei 2009

Pembunuh Organik

Setelah lama ga nulis kelakuan "gila" temen2 kosan, kayaknya ada yang kurang dari blog gue. Makana, sekarang gue mo nulis lagi tentang gue + temen2 kosan. Perlu diinget, kita bukan sekelompok kecil manusia yang pshyco, sarap, edan ato apalah. Kita juga ga sesinting aktor di pilem komedi dalam negeri yang punya kelakuan menyimpang, kayak punya hobi ternak kecoak, bisa ngobrol sama anjing, ato malah makan kecoak mentah. Meskipun kita suka bertingkah konyol, itu ga berarti kita gila. Inget pepatah yang bilang "antara jenius dan gila itu bedanya tipis". Jadi selain lu pade bisa pitnah kita gila, lu juga ga haram kok kalo bilang kita jenius. (hehehe)
Ngomong-ngomong jenius. Manusia paling jenius di kosan adalah Ieday. Kalo lu tanya kenapa? gue jawab: karena Ieday suka baca koran dan buku. Selain suka baca berita olahraga dan politik, doi juga suka baca artikel tentang kesehatan. Makanya jangan heran doi sangat konsen sama isu2 yang ada kaitannya sama kesehatan. Terutama tentang pemakaian pestisida. (hmm...)
Gue masih inget waktu Ieday ngasih petuah saat gue mo gabung sama doi di kosan yg sekarang. "Perarturan pertama, anggota kosan dilarang keras memakai obat nyamuk jenis apapun" kata Ieday tegas di depan gue, monhox dan edot.
"Emang kenapa Day?" tanya gue.
"Karena obat nyamuk mengandung racun"
"Nah loh, kenapa obat nyamuk yang mengandung, kita yang repot?" tanya Edot.
"Bener tuh Day, kalo obat nyamuk mengandung racun, berarti yang mestinya bertanggung jawab ya... Racun!" tambah gue, "kan racun yang bikin obat nyamuk hamil."
"Setuju gue Broth" sahut Monhox.
"Dasar maneh tiluan Bloon"
"Maksudnya?"
"Maksudnya... obat nyamuk itu ada racunnya, kalo lu pade make obat nyamuk, ga cuman nyamuk yang bisa mampus, lu pade juga bisa koit" jelas Ieday.
"Astaghfirullah hal adzim..."
"Terus gimana donk solusinya biar kita ga dibuat prasmanan sama nyamuk2 nakal?" tanya gue ke Ieday.
"Kita bakalan pake cara alamiah, tradisionil, efektif, sekaligus sehat. Cara ini udah turun temurun mulai dari nabi Adam" jawab Ieday.
"Apaan tuh Broth?"kali ini giliran Monhox yang nanya.
"Tepok aja"
"Manual donk!"

bersambung dulu ya gue mo belajar dulu (jiaaaaaaaaaaaaaaaaah)
Diposting oleh cafelosophy di 20.25 | 0 komentar  
Jumat, 01 Mei 2009

Sejarah Flu Babi

Sejarah ini gue tulis menurut pengakuan salah satu babi, yang selanjutnya kita sebut oknum babi. Atas permintaan oknum babi tersebut, namanya ga ingin disebutin. Supaya para pembaca ga penasaran, gue akan coba kasih inisialnya aja, setujukan?. Depannya BA, belakangnya BI. Umur 3 tahun. Siswa sekolah menengah kejuruan BABI ngempot.
Untuk wawancara dengan doi, gue mesti sabar nungguin nih babi di kantin sekolahnya. Karena doi lagi ikut UN (ujian ngempot). dan begitu selesai UN oknum babi tersebut segera nemuin gue. Dan berikut ini, kira-kira hasil wawancara gue sama tuh oknum babi.
Menurut oknum babi tersebut, Setelah booming dengan pilem babi ngepet, ternyata warga babi belum merasa puas. Eksistensi mereka di dunia gosip dan berita masih kalah sama artis ibu kota yang rame-rame cerai. Alhasil dengan sedikit bujuk rayu, ato malah dengan sedikit ciuman dan pelukan, Abang Raditya Dika pun takluk dan rela menulis cerpen yang didedikasikan buat warga Babi di seluruh dunia. Yang berjudul, Babi ngesot.
Namanya juga babi, mo digimanain juga tetep aja babi. Hewan yang dikutuk oleh umat manusia seantero jagad raya. (Kasihan...) Apa gerangan salah Babi? Sampe anak-anak mereka kalo jalan pun menunduk karena malu dibilang bokap nyokanya babi. (Tragis...)
Merasa tidak ada kebanggan menjadi babi, umat babi lagi-lagi berusaha menghilangkan identitas ke-babiannya. (katanya sih, mumpung pemerintah belum ngeluarin kartu tanda babi) Mereka mencampur dagingnya pada dendeng dan abon sapi. Bukannya dipanggil dendeng dan abon sapi, produk ini malah dibilang dendeng dan abon babi, padahal selain berbahan daging babi, produk ini kan terang2an nyantumin berbahan daging sapi. Kenapa ga di sebut aja dendeng dan abon sabi (alias sapi+babi). Biar lebih adil dan berperi kehewanan gitu. Kan kasihan babi selalu jadi bahan olok2an. Dasar emang nasib babi ga pernah bagus, dendeng dan abon pun ditarik dari peredaran.
Karena meratapi nasibnya yang ga pernah bagus di dunia ini, para babi-pun kehilangan nafsu makan, tak nyenyak tidur, dan ga sempet olahraga. Akhirnya mereka-pun terserang flu. sialnya, babi ga punya toko obat, begitu juga di toko-toko obat, mereka belum menjual obat flu babi, selain itu babi juga ga punya sapu tangan dan masker, so mereka suka bersin sembarangan. Sehingga virus itu menyebar dan menular ke manusia.
Demikian sekelumit sejarah flu babi langsung dari sumber yang dapat dipercaya. Kalo anda ga percaya silahkan hubungi toko-toko babi terdekat di kota anda.
Pesan Oknum Babi adalah, "ga usah kuatir, selama lu ga ngerasa babi, lu ga bakalan kena flu babi. Wassalam i love you... muach muach muach"
Diposting oleh cafelosophy di 16.05 | 0 komentar  
Langganan: Komentar (Atom)